Asisten Awet

Hiyaaaa…udah lama gak update blog. Kali ini mau ngobrolin tentang topik yang gak ada habisnya bagi emak-emak. Asisten rumah tangga. Aku termasuk ibu bekerja yang sangat-sangat memerlukan kehadiran asisten rumah tangga. Pernah beberapa minggu gak ada bibi, masih bisa kehandle sebenarnya, kecuali setrika selalu aja keteteran juga kasihan anak-anak yang berubah ritmenya mendadak ikut daycare dekat kantor. Bawa dua anak balita ke daycare ternyata repotnya bikin deg2an karena berangkat pagi dan pulang petang waktu rawan bocah lagi rewel ngantuk. Beberapa kejadian emang bikin aku berhentiin mobil di tepi karena situasi chaos. Yaa….yang paling berkesan berhenti di SPBU untuk nyuapin duo bocah yang lagi nagih makan.
Alhamdulillah, rejeki ditemani bibi udah 4 tahunan. Suka duka buanyak banget. Bibi ini saksi hidup dari masa-masa awal rumah tangga yang serba terbatas finansial dari suami status mahasiswa tugas belajar pertama sampai sekarang suami tugas belajar dari kantornya lagi untuk ke-2. Dari kantorku yang jarak cuma 2-3 kilo dari rumah, sekarang aku ngantor lebih jauh karena mutasi. Dari anak pertama 8 bulan sampai sekarang 4,5 tahun. Ngurus si sulung lanjutin ngurus adiknya. Tadinya rumah masih tipe standar dan minim perabotan sampai bisa renovasi dan nyicil nambah perabotan. Tadinya kami belum punya mobil, sekarang ada. Banyak metamorfosa yang dia saksikan. Demikian pula aku, menyaksikan dari dia yang penuh tenaga sampai sekarang sudah mulai kepayahan karena usia.
Gimana resep awetin asisten? Pakai pengawet: sayang. *halah. Kadar sayang antara nyonya rumah dan asisten bikin chemistry spesial. Saat masa-masa menyebalkan dan perang dingin, masih ada ruang untuk memaafkan dan menerima. Saat ada kecurigaan dan percikan emosi masih ada jeda dengan menunggu. Wait n see…. Mengelola partner kerja di rumah itu penuh seni. Ada kalanya kita bertahan, mengalah, mundur, maju, tunggu dan lihat. Kesempatan dan waktu bisa merubah semua keadaan. Sampai sekarang kami masih maju-mundur lepas satu sama lain. Masih merasa belum bisa lepas darinya. Masih merasa saling membutuhkan walau kadang sebal. Dan karena kalau ngomongin asisten sama aja lagi ngobrolin rejeki. Masing-masing keluarga ada rejekinya. Ada yang mudah dapat asisten tapi kita aja yang gak tahu gimana ruwetnya, ada yang rejekinya anak di hal lainnya. Pastinya untuk anak selalu ada rejeki dariNya, salah satu bentuk rejeki ya support system bagi mereka saat aku bekerja adalah kehadiran bibi. Walau gak selalu menyenangkan, tapi kami saling sayang. Semoga sehat-sehat selalu ya Bi… Sampai kapan kebersamaan kami, belum tahu….tapi yang jelas, kalaupun karena kepayahan usia bibi berhenti tetep berasa saudara susah melupakan.

One thought on “Asisten Awet

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s