Bukan Pernikahan Cinderella

Banyak cerita, perempuan setelah menikah merasa tak lebih bahagia dibandingkan saat dia masih melajang. Merasa tergadai semua harinya, mengurusi anak yang seiring bertambah jumlah terasa bertambah pula kerepotannya. Merasa tak sebebas dulu lagi, melakukan hobi dan kesukaan. Jalan-jalan pelesiran dan menumpuk uang tabungan untuk membeli barang-barang impian. Merasa tak punya waktu dan kesempatan untuk mengurusi diri sendiri,tertunda atau tidak melanjutkan studi ataupun mundur dari karir. Lalu, jika mereka merasa apa yang telah dikorbankan begitu banyak bagi keluarga tidak sesuai dengan impian muncul penyesalan disertai angan-angan “Andai saja tidak memutuskan menikah secepat ini….” atau “Andai saja menikah dengan MR. Y”. Jika saat lajang begitu banyak pria mengagumi dan memperhatikan merasa salah langkah setelah menikah bentuk perhatian dari suami tidak seperti yang diharapkan.  Ribuan bentuk kasih sayang bisa jadi tertutupi oleh satu kesalahan. Sekali, dua kali kekeliruan salah paham bisa menghapus kebaikan dalam dalam puluhan-ratusan bulan pernikahan. Hal sepele pun bahkan bisa menjadi ‘matters’.
“Andai saja, tidak menerima pinangannya….” Atau “Andai saja memilih yang lainnya…”

Berandai-andai itu adalah salah satu bentuk bisikan setan. Nyatanya kebahagiaan hidupmu seiring dengan bentuk sabar dan syukurmu.
Seperti kisah istri Ismail AS. Saat Ibrahim AS  mendengar berita wafatnya Hajar, istrinya, ia datang ke Mekah lalu ternyata hanya menjumpai menantunya, ia bertanya bagaimana kehidupan rumah tangga mereka. Istri Ismail yang kala itu tidak mengetahui bahwa Ibrahim adalah mertuanya mengatakan bahwa kehidupan rumah tangga mereka begitu kesusahan dan menderita. Kiranya tak ada manusia biasa yang bisa menandingi kelebihan para nabi. Ismail AS adalah lelaki yang baik, taat pada orang tua dan perintahNya sudah pasti ia adalah suami yang baik. Mengapa istrinya merasa menderita? Dimanakah letak kesalahannya?
Ibrahim AS kemudian menitipkan pesan kepada menantunya agar menyampaikan kedatangannya pada Ismail AS dan berpesan untuk mengganti gerbang rumahnya. Maknanya agar mengganti istrinya. Ismail AS kemudian menceraikan istrinya dan menikahi perempuan lain. Beberapa waktu kemudian Ibrahim AS menengok kembali putranya dan hanya menjumpai menantu barunya. Saat ditanya bagaimana kehidupan rumah tangga mereka, istri Ismail berkata “Alhamdulillah, Ismail adalah suami penyayang, rajin bekerja dan selalu membimbing saya di jalan Allah. Kami hidup berbahagia.” Perempuan itu menceritakan kebahagiaan yang begitu indah dalam pernikahannya. Perempuan sholihah yang berhiaskan syukur dan sabar. Kelak dari rahim perempuan inilah lahir silsilah manusia termulia di dunia: Muhammad SAW.
Bagaimana bisa dua perempuan merasakan hal yang bertolak belakang saat bersuamikan orang yang sama? Dimana letak perbedaannya?
Syukur dan sabar, akan menjadikan hati berlapang dada menjalani kehidupan rumah tangga. Pernikahan yang indah, kehidupan rumah tangga yang bahagia dimiliki oleh mereka yang berbalut iman dan takwa. Karena menikah adalah membangun peradaban, tentu bukan perkara sederhana. Menikah adalah menabur benih cinta, menanamnya dengan tekun, merawatnya dengan sabar, menyuburkannya dengan syukur. Karena surga, ada jerih payahnya. Karena surga bukan perkara sederhana. Semoga apapun ujian yang dihadapi dalam bahtera rumah tangga semakin menguatkan ketaatan agar makin kokoh bangunan iman. Berandai-andai dan menyesali pilihan adalah tanda kurang syukur dan kurang sabar. Pernikahan yang barakah adalah yang mendekatkan seluruh anggota keluarga padaNya. Karena parameter bahagia ada pada dirimu sendiri dan katanya kan “Bahagia itu sederhana” namun tentang surga memang gak sesederhana itu sehingga ada perjuangannya.
Semoga kita diberkahi rumah tangga impian: rumah tangga yang makin bikin tambah dekat denganNya, rumah tangga yang bikin tambah tunduk dan patuh padaNya, jika masih merasa jauh dari itu…genggamlah tangan pasanganmu dan kuatkan tekad bersama hendak kemana biduk rumah tangga ini akan dibawa. Dan buanglah jauh-jauh kata “Andai….”
Jika merasa belum mendapatkan sosok pangeran impian pada suamimu, jadikan Allah mencukupkan segalanya bagimu. Tambahlah ketakwaan padaNya dan biarkan ia, suamimu menjadi pangeran yang mewujudkan impian kebahagiaanmu.
Buat yang masih single dan masih ragu untuk menikah karena khawatir penyesalan kemudian. Pesanku, bereskanlah dirimu sendiri, perbaikilah dirimu sendiri semoga dapat pasangan yang baik sehingga sedikit PR rumah tangganya agar lebih mudah mewujudkan rumah tangga impian 🙂 Tak ada pangeran atau puteri impian, karena manusia penuh kekurangan.
Karena hidup kita bukanlah seindah pernikahan Cinderella 🙂
Tulisan ini berlaku buat Men juga, ga cuma buibu  aja ya…
By: Zarah Safeer


Pic:google

*sebuah tulisan utk semua yg pernah berbagi dan memercayakan kisah kehidupan rumah tangganya padaku

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s