Geliat dan Kampanye LGBT

                Malam ini saat anak-anak pules banget, tiba-tiba kebangun niat banget buat nulis tentang eljibiti di UK. Well, sebenarnya aku gak tahu banyak karena cuma tiga bulan aja di UK. Namun, waktu itu saat mengunjungi British Library aku merasa wow emang bener-bener gaung kampanye eljibiti itu nyata adanya! Mereka benar adanya disupport oleh pemerintah dalam hal ini, diperbolehkan menyelenggarakan anniversary ke-50 di British Library yang mana, itu museum  perpustakaan gitu lho! Objek wisata edukasi bagi anak-anak kecil dan juga pelajar juga kan.

                Hari itu kami rencananya mengambil visa schengen yang menurut notifikasi dari e-mail sudah dapat diambil di TLS Belgium di Addison Bridge, London. Kami sengaja merencanakan dua hari di London sekaligus berjalan-jalan ke beberapa tempat di London (meski pastinya gak semua kesampean). Nah, berhubung British Library ini letaknya selemparan batu (tapi ngelemparnya pake meriam sih ha ha ha) dari Stasiun King Cross, jadi kita cukup jalan aja sebenarnya setelah keluar dari stasiun. Namun berhubung agak dong2 alias gak mudeng kalo sedeket itu, kami sempet naik bus. Duh sayang kan deposit tiket Oyster jadi berkurang. Oyster itu card buat naik bus di London, beli dan ngisinya di stasiun tube (alias kereta underground-nya London).

                Sebenarnya aku bingung tulisan ini mau bahas British Library atau eljibiti yak, yaudin dua-duanya aja yak. Pertama ke British Library, kita akan berhadapan dengan petugas diperiksa semua barang bawaan dengan metal detector. Kebetulan kami bawa koper ukuran kabin juga karena mau nginep di London. Dibongkarlah itu koper juga. Jadi agak ribet sebenarnya. Petugasnya baik sih, dan poin terpenting: gratis masuknya! He he he.

                The British Library ini adalah perpustakaan nasional United Kingdom dengan menyandang predikat sebagai perpustakaan terbesar ke-2 sedunia berdasarkan jumlah katalognya. Koleksinya mencapai 150 juta dari seluruh penjuru dunia. Banyak harta karun dunia, termasuk lukisan-lukisan Raffles yang pernah menjabat sebagai gubernur Inggris untuk Indonesia saat masa penjajahan. Lukisan Raffles ini menggambarkan flora fauna Indonesia-Malaysia. Bapak yang satu itu memang sangat cinta dengan budaya sekaligus alam Indonesia.

                Selain itu, kita bisa melihat sejarah dan video Magna Carta, tulisan drama Shakespeare  yang melegenda, coretan tangan John Lenon untuk lirik lagu The Beatles dan karya-karya mendunia lainnya. Rasanya kalau bukan karena bawa anak-anak balita pengen berlama-lama di exhibition room. Apalagi saat melihat sejarah tulisan dari masing-masing budaya: China, Arab, Jepang, Eropa , dsb. Pas lihat perkamen-perkamen tulisan zaman dahulu kala makin takjub gitu seolah tersedot ke masa lampau!

                Di sini juga dipamerkan kitab suci asli dari zaman awal-awal masehi hingga perkembangannya sekarang. Di British Library ini tersimpan Al Qur’an dari abad ke-8 hingga abad ke-16. Al Qur’an abad ke-8 berasal dari Arab, abad ke-11 dari Iraq/Persia, abad ke-13 dari Spain/Granada, abad ke-13 dari Cairo-Egypt, abad ke-16 dari semenanjung Malaysia. Tentu saja yang berbeda dari ke semua itu adalah gaya penulisan hurufnya. Namun demikian, sejak pertama AlQur’an dituliskan oleh Zayd Bin Tsabit (sekretaris Rasulullah saw) hingga saat ini sama sekali tidak ada perubahan dan tak pernah ketinggalan zaman. Malah makin terkuak bersinergi dengan pengetahuan alam.

                Kita juga bisa melihat kitab suci asli dari zaman dahulu kala milik Yahudi, Nasrani, Hindu, Buddha dan apalagi ya *lupa. Benar-benar harta karun dunia! Benar-benar berharga, ingin rasanya mendokumentasikan semua informasi penting tapi kan kagak boleh foto, jadi Cuma mengandalkan catat cepat-cepat. Keburu bocah-bocah balita bosan terlalu lama dan berbuat kegaduhan. Yang mana kagak boleh berisik.

                Nah apanya yang tentang eljibiti?

                Intronya panjang banget yak, he he he. Jadi pas pertama lolos dari penggeledahan petugas metal detector yang segala isi koper dan ransel dikeluarkan, hal yang terpampang nyata di lobi Library adalah spanduk besar yang menjulur dari lantai atas : GAY UK, Love & Law Liberty. Awalnya sih bingung ya, masih datar dan gak mudeng gitu baca spanduknya. Eh masa yak di tempat wisata edukasi gini kampanye eljibiti yak? Jadi, masih take slow aja sih. Masih belum ngeh kalau  eljibiti UK lagi anniversary. Iya, anniversary jadi emang lagi pesta merayakan eksistensi mereka di UK.

                Terus, pas lihat-lihat ke spot pameran GAY UK yang mana di ruangan terbuka, mudah banget diakses dan lumayan menarik perhatian deh. Eh kaget lah serius, “eh mas ini kampanye eljibiti?” Tanyaku bisik-bisik. “Ya, biasa aja kali.” Kata suami lempeng. Lah, kalau anak-anak balitaku kan kagak ngerti dan belum bisa baca yak gimana anak lain yang lihat yak? Sumpeh waktu itu, agak geram dan kesel tapi muka santai lah. Santai aja, berasa biasa aja lah, senormal mungkin sambil baca sejarah eljibiti UK dari awal.

                Tapi, sumpah gak kuat bacanya! Sudahlah, bahkan bacanya pun sambil pelan-pelan dan kudu diulangi takut salah pengertian, tapi ujung-ujungnya gak kuat, nyerah! Maaf, gak kuat bacanya terlalu (maaf) menjijikkan dan tidak bisa diterima hati serta pemikiranku. Khawatir malah gue kena cuci otaknya juga. Ya, gimana gak bikin mual kalau ada lukisan hubungan sesama jenis. Juga ditayangkan video pelaku eljibiti yang diwawancara beserta argumen-argumen mereka menuntut love & law liberty-nya. Ada tag yang ditulis gede di situ “Prince Charles can married twice but gay no once.” Lupa sebenarnya kata-kata pas tag linenya apa, kurang lebih gitu bunyinya. Kalau salah ya, salah-salah kata.

Di pameran diceritakan sejarah awal mula pelaku eljibiti di UK dibakar hidup-hidup, selalu dihukum dan disingkirkan dari masyarakat. Lalu, kemudian lahir aktifis-aktifis menyuarakan hak mereka untuk diterima dan dicintai. Kemudian ya, sekarang sudah 50 tahun perayaan organisasi eljibiti UK. Mereka sudah hidup damai, diterima di sekitar penduduk UK. Meski kontroversi tetap ada namun mereka tetap eksis dan bahkan mempunyai diesa sendiri. Di UK terdapat beberapa gay village, yang terkenal diantaranya di: Birmingham, Bristol, London, Leeds, Liverpool, Manchester, dsb. Ya, mereka punya desa untuk kaum mereka tinggal hidup damai!

Serem? Melihat pria-pria berciuman di sepanjang jalan di UK adalah hal biasa saja. Walau sebenarnya tidak cuma di UK, namun juga negara-negara Eropa lainnya. Hal demikian jga kulihat di Belanda dan Prancis. Inilah yang aku takutkan, meski dalam hati tidak terima namun berkebalikan dengan keadaan yang harus dihadapi.

Lalu kemudian teringat oleh kisah Berenice, justru dia yang menemukan sinar iman di London, di tengah hingar bingar dan semrawutnya kehidupan.

Aku bertemu dengan Berenice di masjid King Cross saat berbuka puasa dan beristirahat sekaligus menunaikan sholat Maghrib. Dia mualaf sejak 1,5 tahun silam dan menggunakan nama Fatimah sekarang. Dia berasal dari Mexico yang mencoba peruntungan mencari kerja di London. Saat malam pertama di London, saat itulah dia melihat gerombolan pria-pria tanpa busana melainkan hanya sehelai celana dalam wanita dan menggunakan high heels berlenggak-lenggok sambil minum alcohol di jalan raya London! Sungguh mendegar ceritanya saja mual!

Makin hari, Berenice makin merasakan kekalutan hati! Banyak hal yang tidak diterima nuraninya, dia membutuhkan cahaya Tuhan, hingga akhirnya dia sering bertemu dengan perempuan menggunakan jilbab. Hatinya merasa terketuk untuk mengetahui lebih dalam tentang pegangan hidup.

Berenice mengaku bahwa seumur-umur selama tinggal di Mexico dia belum pernah menjumpai identitas Muslim. Namun, di London dimana segala hal keburukan bisa terjadi, dia menemukan cahaya kebaikan yang tersebar dimana-mana. Di London inilah, kali pertama dia melihat jilbab, di saat itulah dia mulai tertarik ber-Islam.

Begitu panjang ceritaku dengan Berenice (gak cukup dituliskan di sini).

Oiya, satu lagi tentang eljibiti, kala itu anak-anak merengek meminta dibelikan majalah cbeebies di ALDI (swalayan). Oke, aku beli walau merengut karena lumayan harganya bisa beli buah berapa macem gitu ha ha ha (mama hemat). Kaget-terkaget-kaget, saat dibuka di rumah ada gambar seorang anak kelinci (eh kelinci orang atau hewan ya ha ha ha) digandeng tangan oleh ibu kelinci dan ibu kelinci (alias perempuan semua) sementara temen-temen kelinci digandeng tangan sama bapak-ibunya. Saat itu aku gak ngeh, yang ngeh ya anakku yang gede “kok ibunya ada dua?”.

Eh, kenapa ya…”Salah gambar ini, atau mungkin ini tantenya.” Jujur aku masih belum ngeh ada hubungannya dengan kampanye eljibiti. Pas ngobrol santai sama suami “Mas, masa sih tadi beli cbeebies, ibunya ada dua, kagak ada bapaknya. Salah gambar apa gimana sih ini majalahnya.” Laporku. “Kamu kayak gak tahu aja. Itu kampanye eljibiti kali. Udah biasa di sini.” Kata dia santai.

What?! Kampanye mereka memang sasarannya anak-anak. Dimulai dari media tentu saja! Gak heran, beredar viral video serial tayang Disney Junior yang menayangkan anak-anak dengan sepasang orang tua sesama wanita (lesbian). Dan setahuku cbeebies ini memang salah satu program TV-nya BBC, selini sama teletubbies (yang juga menyelipkan kampanye eljibiti)!

Oke, kesimpulan dari tulisan ini adalah: mari jaga anak-anak kita! Kampanye mereka bergerak nyata merusak generasi-generasi masa depan. Selektif memilih tayangan dan tontonan bahkan membeli buku! Orang tua perlu screening semuanya! Saat di UK sih aku ngerasa sebagai pendatang, tapi saat di Indonesia aku merasa sebagai bagian bangsa ini. Dan aku gak ingin, eljibiti mencuci otak anak-anak kita. Tahu kan, hari gini persebaran informasi lewat media itu gak sampai hitungan detik. So, tetap waspada! Apalagi penggunaan media sosial, ngerinnya kebangetan. Sebagai contoh, facebook dan instagram dapat menjadi sarana mudah penyebaran pahamnya. Justru, mereka menggunakan media sosial untuk saling berkenalan dan berjanji temu.

Dan setelah mengunjungi Britsih Library kami mengunjungi Natural History Museum. Lalu terasa pas! Mendadak terasa ancaman di depan mata saat melihat bekas-bekas letusan vulkanik Gunung Vesuvius meluluhlantakkan kota Pompeii, Italia. Berdasarkan penemuan arkeolog, diketahui bahwa penduduk Pompeii melakukan kegiatan sex sesama jenis seperti yang terukir pada grafiti di dinding-dinding kotanya. Saat itu sih, melihat manusia yang membatu karena abu vulkanik aja sudah merasa diingatkan. Tidakkah kita mengambil  pelajaran dari sejarah masa lalu?

 

4 thoughts on “Geliat dan Kampanye LGBT

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s