REVIEW TRAIN HOSTEL (BELGIA)

Sebelumnya kami merencanakan untuk menginap di penginapan milik seorang WNI (Kak Rahma) di Brussels, namun konyolnya kami lupa men-cancel bookingan hotel di TRAIN HOSTEL, Brussels. So, daripada debitan dari rekening kami hangus sia-sia akhirnya kami memutuskan untuk menginap di TRAIN HOSTEL dengan sedikit berat hati. Karena saat itu malam ke-13 ramadhan saat kami sampai di Belgia, rasanya lebih afdhol kalau sahur dengan hidangan masakan Indonesia, terutama nasinya kan he he. Bayangan sahur masakan Kak Rahma yang telah lama tinggal Brussels lenyap deh.

Kami sampai Train Hostel pukul 02 dini hari karena penerbangan kami baru menyentuh landasan Charleroi pukul 22 kurang. Lalu kami baru menaiki bus dari Charleroi pukul 00 dan sempat drama baterai HP mati, jadi baru dapat supir Uber pukul 01.30. Bayangan denda telat check in sudah menghantui sih, ya harganya mirip dengan tariff semalam. Jadi, udah pasrah aja sih bayar fee lebih karena last check in pukul 23 kalau gak salah.

Cerita berkesan dengan 2 orang upir Uber yang mengantar kami : Mohamed dan Mohamed pernah kutuliskan pada post ini. Singkat cerita kami sampai di Train Hostel dengan bengong karena gelap gulita. Pintu pun terkunci! Oke fix udah tutup! Dan digedor-gedor pun gak dibukain. * Cry

Udara dingin kota jelang Subuh menerpa tubuh kami. Anak-anak berlindung di stroller, menahan kantuk. Suasana di Schaarbeek lengang, sepi, senyap hanya temaram lampu jalanan yang hidup redup. Hendak kemana kami merebahkan diri, sebentar lagi juga masuk waktu Subuh. Dalam hati rasanya ingin nangis deh. Belum lagi, menu buka puasa kami hanya beberapa teguk air putih dan beberapa potong biscuit setelah berpuasa hampir 19 jam. Ini baru hari pertama dari rangkaian 10 hari keliling Eropa, namun hatiku sudah mencitu.

Ahh, aku mencoba mengetuk jendela ruangan resepsionis yang terlihat terang karena lampu duduk. Hanya ruangan itu yang menyala terang sementara yang lain gelap gulita. Beberapa saat kemudian, terlihat seorang pria dengan rambut acak-acakan dan muka bantalnya menyambut kami. Mengintip dari jendela lalu membukakan pintu bagi kami. Alhamdulillah!

Kami meminta maaf terlalu larut check in karena banyak kendala. Lalu dia memberikan kami kunci dengan meyakinkan terlebih dahulu pada kami “Kabin kereta? Tidak ada selimut di ruangan kabin kereta.” Iya nampak ragu melihat anak-anak kami yang masih balita. Ya, aku baru menyadari kemudian jika kamar yang kami pesan benar-benar kabin kereta!

WhatsApp Image 2017-10-08 at 08.58.05(4)

Kamar Kabin Kereta

Segera setelah sampai kamar, kami membereskan barang-barang. Bersiap-siap untuk melaksanakan sholat dan baru kami sadari, kamar ini sangat kecil sehingga kami tidak sempurna meregangkan punggung untuk sujud dan rukuk. Kamar kecil ini hanyalah seukuran 2 bangku kereta yang saling berhadapan dengan jarak sempit diantaranya. Ya persis kayak kabin keretanya di film Harry Potter. Meski demikian, kamar ini dapat menampung 6 orang karena terdapat 6 bangku yang dapat digunakan sebagai single bed. Pada sisi bangku terdapat 3 bangku kereta yang disusun ke atas demikian pula bangku di hadapannya. Jadi kamar kecil ini pas buat 6 orang bebaring. Catatan: gak berlaku buat orang ukuran jumbo hahahaha.

Jadi masalah saat semua orang ingin berdiri dan bergerak, duh susah banget, boro-boro ha ha ha. Akhirnya kami menata barang-barang kami di bangku teratas lalu menggunakan bangku di bawah sebagai tempat tidur. Sementara itu suami memilih tidur di tingkat ke-2. Oiya, anak-anak memilih tidur bersamaku. Jadi, satu bangku untuk tidur 3 manusia sambil bebaring. Rasanya? Pegel! Ha ha ha ha. Tak ada selimut, maka kami menggunakan jaket. Oiya, tak ada heater juga! Tapi karena sudah masuk summer jadi gak sedingin malam-malam biasanya.

Esok paginya kami segera bergegas karena pukul 10 harus check out. Meski hanya beberapa jam tidur namun anak-anak tampak cukup ceria! Kamar mandi untuk kamar kabin menggunakan kamar mandi bersama (shared bath romm). Cukup nyaman, tapi aku kurang suka dengan aroma sabunnya. Menurutku bau amis. Sabun dan samponya aneh! Pun meninggalkan sensasi licin di kulit. Ini sabun apa yak, agak curiga pakai unsur hewan. Ha ha ha, dasar curigaan.

Setelah membereskan kamar dan bersiap-siap kami baru menyadari bahwa deretan kamar-kamar di tempat kami bermalam memang gerbong kereta beneran! Pagi hari membuat penglihatan lebih jelas dibanding saat malam kami datang kan, kami benar-benar terkesima dengan hotel unik ini. Segala ornamen tentang kereta dimana-mana.

Kami berfoto di depan kamar gerbong kami. Lalu aku merasa seorang lelaki bule mengamati kami dengan saksama sambil menuliskan sesuatu pada bukunya. Karena merasa jadi objek perhatiannya, akhirnya aku menawarkan pada suami “Mas, minta tolong Bapak itu aja untuk fotoin kita deh. Kayaknya dia tertarik sama kita deh, daritadi merhatiin.”

WhatsApp Image 2017-10-08 at 08.58.06(1)

Gerbong Kereta Terdiri Dari Beberapa Kamar

Akhirnya Yogy berkenalan dan mengobrol panjang lebar dengan Markus, lelaki berkebangsaan Jerman yang tengah melakukan perjalanan bersama mahasiswa binaannya di Belgia. Markus seorang dosen pendidikan anak-anak. Oh, jadi itu kenapa dia sangat memperhatikan kami yang tengah membawa dua anak balita. “Bisakah kami meminta tolong untuk difotokan?” Akhirnya tibalah saat Yogy menyampaikan maksudnya. “Oh sure! I’ll do my best!” Markus semangat dan antusias.

WhatsApp Image 2017-10-08 at 08.58.05

Kamar-Kamar Unik Nuansa Kereta

Tentang Train Hostel, kayaknya kalau ke Brussels harus ke sini lagi deh. Unik banget, tiap kamar berbeda nuansanya. Mau nginep di gerbong atau di kamar biasa juga ada. Suasananya juga nyaman dan kekeluargaan khas hostel. Dan ratingnnya bagus banget di Tripadvisor dan bukan tanpa sebab kan. Aku pun kasih rating yang bagus untuk Train Hostel. Terpenting harganya masuk akal kalau dirupiahin! Untuk kamar kabin kereta kami kalau dirupiahin sekitar 500 ribu rupiah tapi tanpa breakfast ya. Oiya, surprisingly kami sama sekali gak bayar fee terlambat check in kayaknya karena mereka kasihan sama kami, jelang subuh baru sampai penginapan dengan membawa dua anak balita.

Kata Mak Sondang sih bisa juga masak Indomie di pantry Hostel. Tapi, kami pas kami bikin hidangan sahur ala kadarnya pantry gelap gulita euy dan gak ada petugasnya. (yaiyalah) jadi cuma ambil air putih aja di pantry… Thk u Mak Sondang, nyontek itin dia nih nginep di Train Hostel, Thk u juga Mak Vivi yang kasih info tempat menginap di rumah WNI walau ternyata gak kesampaian ke rumah Kak Rahma.

WhatsApp Image 2017-10-08 at 08.58.06

Train Hostel

2 thoughts on “REVIEW TRAIN HOSTEL (BELGIA)

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s