Berapa Jumlah Anak Yang Ideal?

Pengen Punya Anak Berapa?

Kalau baru punya satu anak biasanya agak mikir-mikir kapan kasih adik dengan dalih, “Satu aja bikin repot…!” nah, tapi kalau sudah punya anak ke-2 dan selanjutnya biasanya malah bilang “Anak satu atau banyak sama aja repotnya.” Jadi mending plan punya anak berapa? Lagian kenapa sih harus di plan? Menurutku sih rencana memiliki anak harus diplan, karena menyangkut hidup dunia-akhirat. Anak bisa menjadi kebahagiaan bagi orang tuanya namun juga bisa menjadi ujian. Bisa pula menjadi tanggungan dosa bagi orang tuanya dan juga bisa menjadi amal jariyah.

Tapi ada juga pendapat gak boleh di-plan, segimana dikasihnya aja. Gak boleh dibatasi jumlah anaknya, tapi boleh diatur. Sementara itu pemahamanku, diatur ya sama aja di-plan. Misal nikah usia 25 tahun, kan ada rentang waktu 15 tahun sampai usia 40 tahun untuk merencanakan dan mengatur jarak kelahiran anak. Kenapa 40 karena kata ahli di atas 40 tahun udah riskan hamil. Ini juga cuma asumsi aja sih. Nah dari usia 25 sampai 40, kira-kira ingin setiap 3 tahun sekali melahirkan, jadi selama 15 tahun rentang waktu bisa direncanakan 5 anak. Perkara dapatnya kurang atau lebih dari rencana kan kuasa Allah. Tapi, kok aku jadi beranggapan ya sebenarnya boleh-boleh aja dong membatasi jumlah anak. Soalnya efek dari diatur itu kan jadi mau gak mau membatasi jumlah anak. Meski berapapun dikasihnya jumlah anak ya Kuasanya Allah.

Tapi kan memang gak ada yang mengharamkan KB sih, ya sementara ini hasil obrolan-obrolan dengan banyak keluarga dikembalikan ke musyawarah kelaurga masing-masing perkara mau punya anak berapa. Tanggung jawabnya kan juga ditanggung masing-masing. (yaiya). Tapi punya banyak anak dianjurkan Rasulullah saw perlu diingat, tapi juga berlomba-lomba banyak anak juga rawan bikin lalai.

So,

Ada beberapa hal yang berkesan banget kenapa aku pribadi ingin punya anak banyak (lebih dari dua).

  1. Pernyataan psikolog di sekolah Alzam saat bilang generasi sekarang biasanya terlahir menjadi anak tunggal atau hanya dua bersaudara. Akibatnya banyak buanget, diantaranya orang tua begitu memenuhi kebutuhan dan keperluan anak namun anak kesulitan untuk belajar berbagi, menghadapi kesulitan hidup kurang effort, terlalu dimanja, manajemen konflik kurang bagus, alias jadi individu egois. Kata psikolognya! Sebenarnya sih, gak salah dikasih anak berapa sama Tuhan kan udah rejeki keluarga masing-masing. Namun yang salah mental orang tuanya. Biasanya orang tua yang punya anak sedikit cenderung memanjakan. Kalau anak banyak sih kan mau gak mau serba diatur untuk pemenuhan kebutuhan anak. Begicu katanya…
  2. Kalau jasad sudah berkalang tanah dan gak bisa beramal, anak-anak shalih/ah yang bisa menolong orang tuanya. T_T . Ya, inginnya banyak yang mendoakan. Tapi ya syaratnya anak-anak harus jadi anak shalih/ah. Pernah denger istilah amal jariyah dan dosa jariyah? Jangan sampai anak menjadi pribadi yang buruk sehingga orang tua juga menanggung dosa atasnya. T_T. “Dari Abu Hurairah : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila manusia itu telah mati maka terputuslah dari semua amalnya kecuali tiga perkara : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shalih yang mendoakan.” (HR. Riwayat Muslim)
  3. Jarak Alzam dan Aza sekitar 20 bulan, yang pada awalnya repot. Tapi justru banyak kemudahan yang sekarang dirasakan. Mereka jadi tim yang solid, sering main berdua, saling belajar mengelola konflik satu sama lain, belajar berbagi, peka dan peduli. Kehadiran Aza yang memang pada awalnya bikin kaget, karena Alzam baru 12 bulan tapi sudah hamil lagi ternyata benar-benar hadiah dari Allah bagi kami. MasyaAllah, Allah yang lebih tahu apa yang kami butuhkan. Alzam belajar banyak menjadi kakak, dan Aza pun belajar sejak dini berbagi, kami sebagai orang tua juga banyak belajar dari mereka.

Btw, karena manusia cuma bisa kepengen dan Allah Yang Maha Tahu apa yang kita butuhkan. Jadi benar-benar perkara ikhtiar memilik anak Allah yang menentukan. Bagi yang belum dikaruniai semoga menjadi amalan dalam berikhtiar dan bersabar. Bagi yang sudah dikaruniai semoga menjadi sarana bersyukur bukan mengeluh, sarana belajar dan semakin dekat pada Allah.

Kalau  baca surat Al Kahfi tiap hari Jumat, disitu diingatkan bahwa harta dan anak adalah fitnah dunia sementara amalan kebaikan adalah amalan terbaik yang abadi. Juga di surat Al Munafiqun (Q.S 63: ayat 9 sd 11) diingatkan juga agar harta dan anak-anak tidak melalaikan diri dari mengingat Allah. Dan di ayat-ayat lain juga banyak dibahas, harta dan anak biasanya disebut berbarengan.

Nah,

Sebagai parameter apakah kita telah lalai atas kehadiran anak adalah, apakah kualitas ibadah kita semakin berkurang karena kesibukan mengurusi anak? Apakah kita terjebak pada syubhat atau haram demi memenuhi nafkah keluarga? Tetap saja , parameter kita Allah dulu baru keluarga. Allah yang memberi kita rejeki, seharusnya cara kita mensyukuri kehadiran permata hati (anak-anak kita) adalah dengan semakin mendekat padaNya dan menjadi orang tua shalih.

Dan, kemarin diingatkan lagi saat pengajian pekanan tentang tafsir surat At Takatsur. Surat itu menceritakan tentang bermegah-megahan telah melalaikan manusia. Hasan Basri mengatakan bermegah-megahan yang dimaksud adalah berlomba-lomba memperbanyak harta dan anak. Padahal yang dibawa mati terkait harta adalah: Shadaqah jariyah bukan tumpukan harta. Padahal yang dibawa mati adalah: doa anak shalih bukan jumlah anak yang banyak. Maksudku adalah, jangan sampai kita gak mengukur kemampuan diri sendiri, kapasitas kita sebagai orang tua merasa sanggup dengan jumlah anak berapa? Merasakah sanggup mendidiknya menjadi anak shalih?

Gimana cara ukurnya? Bukan! Bukan dari segi berapa penghasilan. Karena Allah sudah menjamin tiap anak ada rejekinya. Tapi dari seberapa dekat kita dengan Allah? Bagaimana ibadah-ibadah wajib dan sunnahnya? Bagaimana cara kita menjaga diri dan keluarga dari hal yang haram? Dst.

Jadi sebenarnya kalau ada pertanyaan berapa banyak jumlah anak yang kamu inginkan?

Jawabannya adalah? Seberapa kamu siap menjadi orang tua shalih yang bisa menjaga keluargamu dari api neraka? Boleh aja anak banyak, berarti makin nambah dong ibadahnya, hati-hati jangan lalai. Udah berkali-kali disebut ayatnya di Al-Qurán.

Tanggung jawabnya berat Coy!

Semoga Allah memberikan kita kemudahan menjadi Orang Tua Shalih yang dikaruniai Anak-Anak Shalih!

*Tapi ini ada pendapat temenku yang bilang gak bisa gitu. Karena yang tahu atau enggak Ya Allah kan, pasti dikasih kesanggupan. Jadi gak boleh membatasi mau anak berapa. Tapi aku masih bingung kalau diatur jarak anak kan efeknya jumlah anak jadi terbatas juga. Help me gagal paham T_T

Cuma ya kenapa aku nulis ini, aku sedih aja gitu banyak banget realita setelah beranak pinak jadi lalai dalam hal mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya. Misal, banyak banget realita keluarga memutuskan untuk riba karena untuk transportasi anak dan keluarga misalnya. Atau yang akhirnya riba untuk membiayai sekolah dan kuliah. Kasus lain, ada yang alasannya menafkahi keluarga sehingga bekerja di area syubhat bahkan haram. Terkait hal ini sama saja dengan mengkhawatirkan rejeki anak. Emang gak yakin? Kan Allah udah bilang jangan khawatir tentang rejeki anak. Tapi dengan kita terjerumus hal haram terkait nafkah penghidupan kelaurga sama aja dong kita gak yakin sama janji Allah T_T.  Sama aja dong gak berysukur dikasih rejeki anak sama Allah eh malah jadi alasan buat nafkah dari hal haram (untuk kasus realita yang tadi disebutin).

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Qs. ath-Thalaaq: 2-3).

Kalau ingat ayat yang di atas ini, harusnya ya makin bertakwa sama Allah, agar rejeki keluarga makin banyak. dan gak menjadikan kebutuhan keluarga menjadi alasan untuk riba atau pekerjaan syubhat atau pekerjaan haram.

Jadi menurutku sih modal jadi orang tua itu beneran iman, nah iman kan turun naik jadi gimana ibadah juga yang mempengaruhi. Punya banyak anak anjuran tapi menjaga diri dan keluarga dari api neraka adalah kewajiban! Berat banget suwer..

Feel free to discuss

 

 

2 thoughts on “Berapa Jumlah Anak Yang Ideal?

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s