Drama Lima Tahun Pertama Pernikahan

Konon katanya lima tahun usia awal pernikahan adalah masa penuh kekacauan dimana keuangan belum mapan namun banyak kebutuhan, masa saling menguji kepantasan diri bersanding dengan suami atau istri yg telah terikat janji , masa rawan karena perlu banyak adaptasi dengan pasangan juga keluarga pasangan, masa-masa paling huru-hara terkaget-kaget menjumpai realita tak seindah cita-cita. Yah intinya, masa adaptasi lah ya dari yang awalnya lajang menjadi ‘punya’ orang. Dari yang awalnya bebas merencanakan akan banyak hal jadi merasa harus banyak mengalah untuk kepentingan keluarga. Dari yang semula punya banyak waktu menekuni hobi dan berkreasi atau melanjutkan studi menjadi merasa tak perlu banyak unjuk diri karena ada anak,istri/suami yang lebih menanti.

Masa-masa penuh kejutan ketika dihadapkan saat harus mengelola keuangan sendiri, mengatur rumah sendiri , mendidik anak sendiri, bersosialisai dengan tetangga di rumah sendiri. Apalagi produk pola asuh dan pendidikan masa kini yang serba individualis, anak cuma tahu sekolah-kuliah-cari nafkah-menikah semua sudah diatur orang tua. Anak mungkin ga diizinkan bantu-bantu kerjaan rumah karena sudah terlihat capek sepulang kegiatan kuliah atau mungkin begitu padatnya beban tugas pekerjaan rumah dari sekolah. Iya, saya mengalami hal itu masa-masa sekolah terasa begitu menghabiskan energi karena ortu akan senang anak berprestasi. Namun setelah menikah, saya begitu gelagapan dan terkaget-kaget ternyata begini toh berumah tangga gak ada di pelajaran ataupun mata kuliah apapun.

Untung saja, ibu saya dengan tangan dinginnya sudah tahu apa yang saya butuhkan sebagai modal mengarungi kehidupan berumah tangga. Segera setelah menikah ibu mendesak kami untuk segera mencari tempat tinggal. Ibu bilang dalam satu rumah hanya boleh ada satu kepala keluarga agar seorang istri bisa menjadi istri dan ibu sebenarnya , juga seorang suami akan menjadi kepala rumah tangga sebenarnya jika di rumahnya sendiri. Gak tanggung-tanggung, saat kelahiran cucu pertama dan keduanya ibupun tak pernah menemani saya saat di Rumah Sakit ataupun menginap di rumah saya menemani hari-hari baru saya sebagai ibu baru. Bukan ga sayang anak atau cucu tapi ibu memercayakan dan menghargai peran suami saya sebagai sosok yang bertanggung jawab pada saya dan cucunya.

Saya pun merasa begitu terbantu dengan sikap ibu yang membatasi intervensi pada rumah tangga saya walau kami hidup sekota. Sehingga saya yang manja ini belajar walau tertatih yang ternyata itu adalah modal saya dalam berumah tangga. Masih teringat, hari-hari awal sebagai ibu baru tinggal di rumah yang baru saya tempati bersama asisten rumah tangga yang menemani dengan posisi suami tidak sekota. Saya yang rasanya masih piyik-piyik, masih gelagapan bagaimana cara mengatur asisten rumah tangga, harga sayur mayur aja gak tahu, masak aja gak luwes, interaksi dengan tetangga juga kaku. Tapi ibu benar-benar menjatuhkan saya ke jurang kedewasaan. Ternyata inilah momen bagi saya untuk belajar menjadi istri dan ibu.

Ada masa dimana saya tak memiliki asisten rumah tangga dan pilihan terakhir adalah saya menumpang di rumah orang tua saya agar saat bekerja ada yang menjaga anak saya. Saat di rumah orang tua, ibu sudah memberikan batasan apa saja tugas ibu dan saya sehingga walau secapek apapun kondisi saya sepulang kantor ibu tetap tidak menyentuh tugas saya. Saya harus bangun jam 2 malam untuk mencuci botol-botol ASI, peralatan makan bayi, memasak masakan buat bayi dsb sehingga saat pagi hari berangkat kantor saya sudah mengerjakan semua tugas saya di rumah. Lalu, saat akhirnya mendapatkan asisten rumah tangga baru ibu segera meminta saya untuk kembali ke rumah saya. Bukan ga sayang cucu tapi ibu ingin agar saya bisa menjadi ibu sebenarnya dan juga istri sepenuhnya di rumah sendiri. Walau, posisi suami saya di luar kota.

Tak banyak pola asuh sesadis orang tua saya. Namun memang hanya orang tua yang tahu apa yang sebenarnya anak butuhkan. Ibu saya tahu saya bisa dan mampu hanya saja saya masih manja dan bergantung pada orang tua. Ibu saya tahu bahwa saya dan suami akan lebih merasakan peran berumah tangga dengan minim intervensi orang tua. Di saat saya merasa iri pada orang lain yang selalu didampingi oleh orang tuanya, ternyata di sisi lain saya baru merasa begitu banyak hikmah yang sengaja orang tua berikan pada saya yang manja.

Orang tua yang baik bukanlah yang selalu melayani anaknya namun adalah mereka yang berhasil membuat anak mereka bisa melayani diri mereka sendiri. Karena, cepat atau lambat kita tak selalu bisa mendampingi anak-anak kita bukan.

Seperti banyak yang orang bilang: Orang tua repot ketika anak-anak masih kecil itu biasa, tapi kalau anak-anak sudah besar orang tua masih repot itu baru binasa.

Terakhir, kita ga bisa memilih dari rahim ibu mana kita dilahirkan dan dari ayah mana kita dibesarkan. Apapun pola asuh orang tua pada kita mari sikapi dengan baik, pasti ada hikmahnya. Jika diberi rejeki selalu membersamai orang tua semoga selalu mensyukuri betapa banyak kesempatan untuk berbakti. Jika merantau dan jauh dari orang tua dengan berusaha menjadi mandiri kita tak berkeluh kesah sudah jadi bahagianya mereka kok…

*tulisan 2 tahun lalu di Facebook, ke-up lagi karena ada yang share hari ini.

dan sekarang aku baru share di blog.

Sebenarnya inti dari tulisan ini adalah 5 tahun pertama pernikahan itu banyak dramanya bagi kebanyakan orang dan makin drama lagi jika masih banyak intervensi dari keluarga besar. Di masa-masa ini masalahnya adalah rumah tangga baru masih tertatih-tatih belum mapan ekonomi, belum mapan emosi, dsb. Sehingga kerapkali bantuan orang tua hadir sehari-hari. Namun ternyata bantuan dari orang tua itu tidak selamanya baik, ketika sudah berumah tangga seorang suami hanya akan menjadi suami jika dia diberi keleluasaan mengambil keputusan dan bebas menentukan arah bahtera.  Demikian pula bagi seorang istri tidak akan menjadi seorang istri yang akan hikmat pada suami jika bayang-bayang orang tua masih mengayomi.

Tulisan ini berakhir dengan ending: jangan pernah menuntut apapun pada orang tuamu saat ini. Jika masih membersamai mereka, syukuri. Orang tua akan membatasi bantuan jika kita bisa menunjukkan bahwa kita bisa dan mampu mandiri. Bantuan mereka adalah wujud kasih sayangnya, dan jangan pernah menuntut apapun dari mereka (pola asuh masa lalu, sekolah yang mereka pilihkan, dsb) karena mereka sudah memberikan pengasuhan terbaik sesuai kemampuan dan kesanggupan mereka.

2 thoughts on “Drama Lima Tahun Pertama Pernikahan

  1. sandraartsense says:

    Tfs Teh, saya baru nikah 4 tahun, Alhamdulillah nikah tanpa hutang dan menjauhi riba jadi tenang deh kalo tau darimana asal harta untuk masuk ke perut🤗

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s