Enam Kelalaian Pelaku Long Distance Marriage

Kali ini aku sebagai pelaku Long Distance Marriage (halah) selama 7 tahun terakhir ini mau cerita kira-kira resiko apa aja sih sebagai parents dan dampaknya ke anak-anak.

Sebelumnya, mari kita tengok cerita terbaik sepanjang masa tentang ayah dan anak. Kisah bapak para nabi: Ibrahim AS dengan Ismail AS, seorang anak yang taat pada Allah dan pada orang tuanya. Ismail bayi sudah berjauhan dengan ayahnya karena perintah Allah, Ibrahim meninggalkan istrinya, Hajar dan Ismail bayi yang ia sayangi di lembah dekat baitullah. Bayangkan setelah sekian lama menanti kehadiran buah hati (di usia 80 tahun Ibrahim baru mendapatkan seorang anak) Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan istri dan anaknya di suatu tempat asing.  “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?”Tanya Hajar pada Ibrahim. “Kalau begitu, Ia tidak akan menelantarkan kami.”Lalu Hajar pun ikhlas akan perintah Allah ini karena Allah yang akan menjaga dan melindungi mereka. Ibrahim yang begitu menyayangi anak dan istrinya itu begitu sedih meninggalkan mereka di lembah yang tandus, lalu ia menghadapkan wajahnya ke baitullah sambil berdoa “Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki pepohonan, yaitu di sisi rumah-Mu yang suci. Ya Rabb kami jadikanlah mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rejekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Dan hingga saat ini, lembah kota Mekah menjadi daya tarik bagi manusia di bumi untuk datang mengunjunginya. Dan dari keturunan Ismail AS lahirlah banyak nabi termasuk Rasulullah saw. Doa nabi Ibrahim menembus zaman! Betapa beliau begitu disayangi oleh Allah.

Nah, sebagai seorang wanita kita bisa belajar banyak dari sosok  Hajar saat berjauhan dengan suaminya. Masih ingat kisah Hajar yang berlari mencari air untuk Ismail bayi yang tengah kehausan? Hajar berlari ke Shafa dan Marwah bolak-balik sebanyak 7 kali. Di tengah panas dan teriknya padang pasir dan pasir panas yang ia pijak, ia berusaha mencari air untuk anak yang ia sayangi.

Selama LDM aku ngerasa banget, semua pontang-panting sendirian. Ngurus bayi baru lahir begadang berhari-hari gak ada partner, ya ngurus anak, ya ngurus rumah, ya ngurus kendaraan, ya ngurus semua hal belum lagi juga tetep ngantor, ya nyusuin dan masakin anak-anak. Awalnya sih ngerasa kok gini-gini amat ya benerin WC mampet, ya jadi mandor tukang saat ngecat ulang dan renov kecil-kecilan rumah, ya ganti aki mobil sendiri, ya nyetir mobil sambil nyusuin anak, ya pernah bawa anak yang masih balita ke IGD sendiri, dsb (banyak banget sampai lupa). Tapi di satu sisi sama sekali gak ngerasa all by my self, aku sih ngerasa Allah yang banyak ngasih pertolongan.

Oiya, LDM terparah pas suami studi di UK selama 6 bulan awal, selama 6 bulan pertama beneran semua all by my self berasa banget gak punya partner. Nah, kenapa sih LDM? Untuk ngebahas kenapa kami LDM ini kudu ada postingan sendiri. Sekarang mau fokus ke apa aja sih resiko LDM bagi rumah tangga terutama bagi anak.

Aku gak memungkiri pendidikan terbaik di usia golden age anak ya kehadiran ayah dan ibu dalam sehari-hari. Nah, bagi yang tidak seperti itu, ya sebisa mungkin menghadirkan sosok ayah dalam keseharian, tetap sebagai kepala rumah tangga ayah. Jangan sampai menggeser peran ayah atau bahkan meniadakannya jika ayah masih ada (ini khusus membahas LDM ya bukan yang lain).

Beberapa kelalaian yang biasanya terjadi bagi rumah tangga LDM:

  1. Meniadakan peran ayah/ibu dalam keseharian anak. Memang pada kenyataannya ayah/ibu posisinya jauh, namun demikian komunikasi masih bisa diupayakan hari gini gituloh. Mengembalikan pengambil keputusan adalah ayah sebagai kepala keluarga. Bagi ibu yang mengurus anak sehari-hari dengan ayah di luar kota jangan lupa sertakan ayah dalam musyawarah, libatkan ayah untuk diskusi tentang permasalahan anak, dan ajak anak untuk bertanya terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu kepada ayah.

Misal: saat anak meminta mainan, ibu berkata “nanti coba tanya sama ayah ya..” atau saat anak mendapatkan prestasi ibu berkata “kata ayah, kamu hebat!” jadi anak merasa bahwa ayah memang hadir dan memerhatikan mereka meski dari jarak jauh.

Kenyataannya banyak sekali otomisasi dalam rumah tangga LDM yang menyebabkan komunikasi mengenai anak tersisihkan bahkan ibu tidak menghadirkan peran ayah dalam rumah. Pengambil keputusan memang lebih banyak ibu dalam keseharian LDM (bila ayah jauh) jika ibu melupakan menghadirkan sosok ayah di hadapan anak, maka anak akan merasa ayah mereka tidak ada peranan dalam keluarga. Dan ini bisa jadi masalah serius ke depannya! Kalau dibahas lagi bisa puanjanggg…bahayanya anak kehilangan figur ayah bisa serem deh.

Sepertinya titik beratnya lebih di ibu ya sebagai figur yang melekat keseharian dengan anak. Ibu yang tangguh itu hebat tapi bila semua dikerjakan oleh ibu sendiri, akan ada figur ayah yang hilang. Untuk itulah, ayah LDM harus lebih extra usaha berperan dalam keluarga.

  1. Bila anak sudah mengerti dan mulai paham beri pengertian mengapa ibu dan ayah tidak seatap. Ayah dan ibu harus sekata memberikan penjelasan dan pemahaman. Kita bisa belajar dari keluarga Ibrahim bahwa The Power of Dua benar-benar jadi pertolongan. Ayah, tolong meski jauh doakan dan hadirkan keluargamu pada hatimu, doakan selalu mereka. Hanya Allah yang bisa menjaga keluargamu selama engkau jauh dari mereka. Ibu, jika saat ini harus berjauhan niatkan melepaskan suami pergi jihad mencari nafkah/ilmu agar lebih ringan melepasnya. Mencari nafkah/ilmu itu jihad di jalan Allah lho. Kalau zaman dulu, para istri sahabat begitu rela melepas suami mereka berperang di jalan Allah, yang belum tentu kembali dalam keadaan hidup, maka LDM masa kini belum ada apa-apanya beb…

  1. Ibu terlalu dominan. Nah balik lagi ke poin 1 , mau gak mau ibu jadi sosok yang super women banget. Semua bisa dikerjain dari dapur, otomotif, tukang, dsb. Efeknya juga bisa panjang saat anak-anak dewasa dan berumah tangga. Saat mereka mulai menjalani peran sebagai istri/suami tanpa mereka sadari mereka akan menduplikasi ayah dan ibunya. Mungkin bagi anak laki-laki dengan ayah LDM akan beranggapan bahwa akan mempunyai seorang istri mandiri dan bisa melakukan semua hal sendiri, padahal tidak setiap istri siap dalam kondisi seperti itu. Nah untuk itulah balik ke nomor 2, ayah dan ibu harus menjelaskan keadaan LDM yang dijalani bukanlah hal yang seharusnya ideal. (iya kan…) sehingga anak akan lebih terbuka pemikirannya.

Kita juga bisa belajar dari kisah Hajar yang pontang-panting mencari sumber air untuk bayi Ismail, berlari ke Shafa-Marwah bolak-balik 7 kali. Salah satu maknanya adalah jadi ibu harus berjuang sekuat tenaga untuk anak-anaknya. Jadi ayah apalagi! So, ibu-ibu yang LDM harus lebih memberdayakan diri.

  1. Ayah banyak kehilangan momen berharga bersama keluarga. Sad but true inilah fakta! Tahu-tahu anak sudah besar, ayah mungkin jarang menggendongnya saat bayi bahkan mungkin tidak tahu cara membersihkan popoknya meski bukan lagi bayi pertama yang lahir di keluarga. Demikian pula dengan anak, anak memiliki sedikit memori tentang ayahnya, belum lagi jika ayah pulang dalam kondisi yang tidak fit, stress atau emosi negatif. Mungkin hanya hal-hal negatif yang diingat oleh anak. Untuk itulah, sekali lagi tugas ayah LDM sangat berat untuk menjaga bonding dengan anak. Untunglah sekarang ada video call kan.

  1. Komunikasi tidak lancar antara ayah dan ibu. Banyak hal yang susah dibicarakan melalui seluler, beberapa hal hanya bisa diutarakan saat bertatapan langsung. Meski hal ini bisa disiasati, namun kerikil-kerikil komunikasi yang tidak lancar bila terus membukit akan menjadi gunung masalah yang besar! Ujung-ujungnya yang jadi korban adalah anak bila rumah tangga tidak harmonis. Quality time super penting banget bagi pasutri LDM. Jadikan saat bersama sebagai sarana obrolan dari hati ke hati. Saat suami pulang, segera sambut dengan memuliakannya.

Dikisahkan Ibrahim datang berkunjung menengok Hajar dan Ismail setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Tahu gak apa yang Hajar lakukan? Hajar langsung memberitakan berita bahagia bila ia dan dan anaknya sudah mempunyai rumah dan mempersilakan Ibrahim untuk singgah. Namun Ibrahim tidak diperkenankan Allah untuk turun dari hewan tunggangannya. Kemudian Hajar mengambil air zam-zam dan mengusap kaki, tangan serta wajah Ibrahim, suaminya yang telah lama tidak bertemu dengannya. Membersihkan kotoran dan debu pada badan suaminya. Ibrahim menangis …dan meminta Hajar menyiramkan air zam-zam ke wajahnya agar air matanya tidak terlihat oleh Hajar (duh jujur aku nangis pas baca ini).

Wanita yang setia, menjaga dirinya, menjaga anak dan hartanya selama suaminya diberi tugas oleh Allah untuk berdakwah. Beruntungnya lelaki yang mendapatkan istri sholihah jika berjauhan tidak akan risau, karena takwa akan menjaga dirinya, anak dan hartanya.

BIG NO saat suami pulang menyambut dengan rentetan rengekan,keluh kesah yang terpendam, dsb. Tahan dulu, senangi hati suami terlebih dahulu baru bicarakan kemudian di waktu yang tepat. Laki-laki itu kalau sudah tenang kebutuhan raga dan jiwa lebih enak diajak ngobrol deh. Trust me!

  1. Bersabar, bersyukur, bertakwalah! Ujian berumah tangga itu banyak cuy, namanya juga menikah itu ibadah. Aku inget banget saat suami pamitan mau ke studi ke Inggris dia cuma bilang “Ittaqillah…”artinya bertakwalah. Ya Allah saat itu aku langsung nangis dong. Berat banget titipan pesannya. Bertakwalah, seorang suami akan tenang berjauhan dari istrinya yang bertakwa karena tahu istrinya dapat menjaga kehormatan diri, anak dan hartanya. Bertakwa adalah kunci hadirnya pertolongan Allah untuk setiap kesulitan dan kesukaran. Di saat tidak ada sosok suami dalam keseharian, takwa ini lah yang menghadirkan pertolongan Allah yang tidak disangka-sangka. Banyak sekali kemudahan yang Allah janjikan dengan bertakwa.
    “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Al-Thalaq: 4)

Seorang istri juga akan tenang melepas suaminya pergi karena tahu suami yang bertakwa akan menjaga kehormatan diri dan berjuang di jalan yang lurus. Di sinilah baru aku paham, betapa pentingnya esensi memilih pasangan hidup dari agamanya.

Bersyukurlah, kita masih diberikan kesempatan bertemu suami/istri kita lagi. Banyak cerita pasangan LDM yang bahkan tidak tahu kapan bertemu, malahan ada yang gak bisa bertemu kembali di dunia.

Akhirnya aku Cuma mau bilang, bagi yang sekarang sedang LDM atau berencana LDM, kembalikan semua niatnya untuk apa.

Sejujurnya LDM itu bisa jadi rugi besar! Namanya nikah ibadah kan, mengajari anak belajar, mengaji, adab adalah ibadah dan tidak semua parents dapat merasakannya bila LDM. Memasakkan suami, melayani suami adalah ibadah namun tidak semua istri diberikan kesempatan itu bila LDM. Menyenangkan hati istri, memenuhi kebutuhannya adalah ibadah namun bila LDM ladang ibadah itu tidak bisa setiap hari ditemui.

Jika saat ini masih LDM dan belum bisa seatap, ikhlaskan, duduk bersama, dan segera bikin plan semoga gak lama lagi LDMnya. Waktu-waktu luang bila berjauhan dengan pasangan juga bisa menjadi waktu yang lebih bermanfaat bila mengikuti kegiatan positif. Misalnya, kalau aku jadi tersalurkan hobi nulisnya, kalau suami karena hobi belajar jadi sering les dan fokus ke pendidikannya. Dan alhamdulillah, akhirnya kami mendapatkan 3 bulan seatap selama di Inggris! Buah dari perjuangan panjang suami yang ulet mengejar beasiswa. Meski Cuma 3 bulan saja tapi benar-benar berharga. Sekarang lagi merencanakan hal lainnya agar bisa seatap. Doakan ya!

Gak salah kok LDM, yang salah kalau kita gak bertakwa sama Allah. Semoga bila dekat dengan pasangan makin ingat Allah, bila jauh makin bergantung pada Allah.

🙂

 

9 thoughts on “Enam Kelalaian Pelaku Long Distance Marriage

    • zarahsafeer says:

      Aku lg on progress seatap Roh, dulu mah gmn mau ke jkt, wong dia aja ke uK. Hahahah kami ada rnacan jangka panjang jg nih …hahaha cita2 kluarga, doakan ya

  1. urohpatrick says:

    Eh ini murni krn aku yg br stengah taun LDM dan lgsg pengen menghapus itu selama aku bisa mengusahakan, krn istri bs ikut suami atau suami yg ada kemungkinan pindah. Wkwkwk..

      • urohpatrick says:

        Kayaknya saking udh terbiasanya. Temenku yg LDM ampir 6 taun, skrg udh barengan lagi, malah kayak pertama nikah katanya, banyak penyesuaian lg. Wkwkwk.. Lain sih ya kl yg dr awal udh LDM. Salung mendoakan yang seeerr 💪🏻💪🏻💪🏻

  2. arifiani says:

    mbak za, akupun LDM baru setengah tahun ini. dan walo aku bisa aja ikut suami tp ternyata pertimbangannya banyak banget yang akhirnya membuat kami mutusin untuk LDM aja. semoga bisa ikhlas dan kuat ya

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s