Persalinan Antara Ikhtiar Dan Tawakal

Sebenarnya ini tulisan udah lama pengen ditulis. Jika kehamilan anak pertama dan kedua lebih banyak memberdayakan diri lewat buku dan internet. Kehamilan ketiga kali ini lebih effort lagi karena ya ingin memberikan yang terbaik bagi kehamilan kali ini. Why? Gitu amat? Karena kehamilan adalah salah satu ladang ibadah. Tujuan hidup kan ibadah yak nah itu. Persalinan dalam Islam juga dipandang sebagai jihad, pahalanya setara dengan jihad.

Nah, tentang jihad gak mungkin dong tangan hampa gak bawa bekal apa-apa saat melahirkan. Namanya jihad mau perang ya siapin kuda perangnya, pedangnya diasah, fisiknya ditempa, strategi dipelajari, kenali medan dsb. Termasuk pesalinan, wajib dong berikhtiar. Sebagai muslim sudah wajib berikhtiar dan tentu bertawakal. Kalo ngomongin ikhtiar bisa belajar dan dipelajari dari berbagai sumber apalagi sekarang zamannya emak-emak milenial megang gadget buat cari info. Tinggal gimana kemauan dan konsisten aja ikhtiar agar memberikan yang terbaik untuk berlaga di medan jihad melahirkan. Kalau ngomongin ikhtiar banyak banget bisa dipelajari.

Nah, yang sering dilupakan adalah tawakalnya. Tawakal adalah cermin keimanan bagi seorang muslim, dimana kita menyerahkan apapun hasil akhirnya kepada Allah SWT. Jadi kalau ngomongin melahirkan, kita harus ikhlas dan ridha tentang kapan waktunya, dimana, bagaimana caranya. Semua sudah Allah tentukan.

“Sesungguhnya hanya disisi Allah ilmu tentang hari kiamat, dan Dia yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakan esok.Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (Surah Luqman ayat 34)

“Tidak luput darpada pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarah di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu melainkan (semuanya tercatat) dalam kitab yang nyata (lauh mahfuz). ” (Surah Yunus ayat 61).

Terjadinya pertemuan ovum dan sperma, ditiupkan ruh pada janin, ditetapkan kapan dia lahir, rejekinya,jodohnya dan kematiannya semua atas kuasa Allah. Cuma kadangkala seringkali ada pergeseran makna di tengah maraknya kampanye gentle birth. Semisal “adik bayi milih lahir tanggal segini.” Atau “Bayi memilih lahir dengan jalan ini..” dsb.. duh hati-hati bisa jadi syirik. Karena seperti kita, bayi hanyalah hamba Allah yang mengikuti takdir dan scenario yang Allah tentukan. Semua sudah Allah tentukan.

Nah, aku ingin cerita pengalaman melahirkan anak ke-2 yang ternyata aku mengalami malpraktik seorang bidan. Jadi saat mules rutin aku ke bidan dekat rumah untuk cek pembukaan ternyata masih pembukaan dua , asisten bidan menyarankan jika sudah mules sudah semakin rapat atau keluar lendir darah baru balik lagi ke klinik. “pulang dulu aja ya bu, kalau di sini nanti khawatirnya dikasih pemercepat sama bidan” Kata asisten bidan. Saat itu aku tidak bertemu dengan bidan utama. Dalam hati sih bertanya-tanya “pemercepat?”

Akhirnya aku pulang ke rumah, mulesnya kubawa tidur. Buat simpen tenaga dan jelang subuh terasa ada lendir keluar. Segera setelah Subuh ke klinik bidan. Di cek baru pembukaan 4. Lalu tiba-tiba bidan utama menyuntikkan entah apa ke paha kanan. Aku ingin protes apaan? “Suntik apa bu?” Tanyaku. Karena aku tidak ada indikasi penyulit. Lagian saat melahirkan anak pertama di Rumah Sakit kagak ada suntik-suntikan. “Biar gak sakit melahirkannya..” Bidan kayak asal jawab gitu.

Dan, beberapa menit setelah suntikan itu langsung dong kontraksi tak terkendali. Jika saat melahirkan anak pertama aku bisa atur nafas dan mengontrol diri. Kali itu tiba-tiba rasa sakitnya berkali-kali lipat dan aku susah mengontrol diri. Jika saat melahirkan anak pertama gak ada teriakan, saat melahirkan anak kedua rasa sakitnya teramat-amat sampai teriak dan terucap ke suami kapok melahirkan.

Saat pukul 5 baru pembukaan 4, pukul 6 sudah dipersiapkan melahirkan. Dan pukul 7 lahir deh putriku melalui proses persalinan normal namun lebih sakit dibanding persalinan normal anak pertama. Lalu, belakangan saat kehamilan anak ke-3 kali ini setelah sharing dengan bidan lainnya, aku baru menyadari bahwa aku disuntik induksi saat persalinan anak ke-2 padahal tidak ada penyulit medis.

Miris sih hati ini, tega bener bidannya hanya demi persalinan cepat tapi tidak memanusiakan pasien. Tapi ya balik lagi, tidak perlu penyesalan karena semua sudah Allah atur dan tentukan. Lagian asisten bidan sudah menyampaikan kalau ternyata bidan utama sering suntik pakai pemercepat alias induksi harusnya aku lebih aware.

Nah balik lagi, kalau kita sudah berikhtiar jangan lupa serahkan semua urusan ke Allah alias tawakal supaya gak kecewa, gak sedih, gak stress. Semoga Allah kasih yang terbaik buat kita semua.

MInta doanya ya buat kehamilan baby 3 sekarang semoga takdir yang baik bagi kami

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s