Kisah Persalinan Maryam Part 1

Kehamilan ketiga kali ini rasanya berbeda, aku seperti mendapatkan banyak kekuatan untuk melakukan banyak hal. Setiap urusan seperti lebih mudah dan lancar bahkan seringkali mendapatkan banyak kebaikan dan rejeki yang tidak diduga. Kehamilan yang penuh dengan energi dan semangat juga kebahagiaan,yaaa…selalu bahagia rasanya. Tubuhku sehat, bahkan merasa lebih cantik saat hamil anak ke-3 kali ini. Sama sekali tidak ada stretch mark di kulit, bahkan kulit lebih terasa halus dan bercahaya. Aku merasa lebih cantik saat hamil anak ke-3 kali ini. Demikian pula kata orang-orang terdekat.

Mabuk dan mual trimester awal wajar dan gak separah kehamilan anak pertama. Masih bisa kulewati hari-hari dengan bekerja di kantor, dinas ke luar kota dan mengurus dua anak di rumah. Kontraksi mulai terasa sejak 28 weeks, kontraksi palsu namun sesekali saja terjadinya. Lalu saat 32 weeks kontraksi palsu semakin sering mengagetkan. Dokter juga memperkirakan baby 3 akan lahir belum cukup umur jika kontraksi terus berlanjut. Akhirnya aku mulai membatasi aktivitas bila kontraksi palsu muncul kembali. Alhamdulillah Braxton Hicks alias si kontraksi palsu itu terlewati tanpa ada lanjutan kontraksi beneran.

Pemeriksaan dokter semua oke bahkan dokter bilang “Lahiran di bidan dekat rumah gak apa-apa ini, kalau gak kekejar. Biasanya anak ke-3 cepat lho melahirkannya.” Aku menjadi tambah optimis. Apalagi jika melihat riwayat melahirkan #Alzamboy dan #Azagirl yang tergolong mudah.

Namun demikian entah kenapa, meski ini kehamilan anak ke-3 aku tidak merasa santai begitu saja. Selama kehamilan banyak hal yang aku pelajari meski sebelumnya sudah pernah aku pelajari. Aku pun mengikuti workshop persalinan dan membaca banyak literatur pemberdayaan diri. Ternyata tanpa kusadari aku tengah mempersiapkan jiwa dan raga sepenuhnya untuk perjuangan melahirkan nanti. Jika kebanyakan orang makin santai karena kehamilan kesekian, namun aku entah kenapa merasa perlu mempersiapkan banyak hal. Semua usaha maksimal rasanya.

Aku akhirnya mengambil cuti persalinan saat 36 weeks dengan pertimbangan perkiraan dokter bahwa aku melahirkan sekitar 37/38 weeks karena sering kontraksi ditambah pula sejak 35 weeks aku menjumpai flek. Entah kenapa kalau diingat-ingat lagi sebulan menjelang melahirkan terasa sekali beratnya dan lemahnya tubuh ini. Semakin banyak hal yang tidak nyaman di hati dan tubuh. Bahkan seminggu sebelum melahirkan, aku kesulitan berjalan dan merubah posisi tubuh dari bebaring-duduk, duduk-berdiri. Sehingga seminggu sebelum melahirkan aku malah membatasi kegiatan, paling hanya exercise pakai birthing ball. Jalan kaki terbatas, apalagi yoga. Padahal sudah 5/6 kali pertemuan yoga yang sudah kuikuti. Dan sudah entah berapa kilometer jalan kaki sebelumnya namun tiba-tiba Allah berkehendak aku salah otot atau urat ya…antara itulah. Jadi aku merasa pesimis, bagaimana posisi melahirkan nanti karena nekuk kaki dan gerakan pinggang aja susah.

Seminggu sebelum melahirkan rasanya hari makin berat terutama sejak aktivitas terbatas. Bahkan untuk tidurpun tidak nyaman. Ditambah lagi kontraksi palsu makin menjadi, bisa selama 3 hingga 5 jam tiap malam mulesnya per 5-10 menit sekali namun hilang keesokan paginya. MasyaAllah kalau teringat bagaimana sakit kontraksi palsunya yang setiap malam terjadi rasanya duh subhanallah deh. Antara harapan senang kalau berlanjut jadi kontraksi beneran tapi tiba-tiba sirna setelah kontraksi ilang. Seminggu terakhir sebelum melahirkan karena sakit otot aku benar-benar off nyetir mobil dan off power walk. Paling banter exercise pakai gym ball.

Dan akhirnya yang ditunggu pun tiba….

Minggu 16 September 2018 di saat usia kehamilan 39w3d pukul 3 pagi ketubanku pecah di kasur! Sejak seharian memang sering kontraksi palsu dengan pola ngacak, lalu malam hari makin menjadi sehingga kadang terbangun dari tidur. Dan saat itu memang terasa mules sekali dan terasa seperti gemuruh di perut bawah lalu aliran hangat mengalir. “Massss…..” aku memanggil suamiku di kamar sebelah. Aku biasanya tidur bersama anak-anak, suami di kamar yang lain karena gak cukup deh. Oiya, Alhamdulillah ini kejadian saat ada suami di rumah alias wiken. Kayaknya emang setiap lahiran bayi itu ingin juga deh sama ayahnya ditemani. Jadi walau aku dan suami beda kota, tapi kelahiran #alzamboy dan #azagirl selalu saat ada abinya.

Eh ajaibnya, suamiku langsung bangun meski aku baru manggil sekali (tumben) “yaaa…..” suamiku teriak dari kamarnya. “Aku pecah ketuban, ayo cepet ke klinik…” Jujur aja, aku gak antisipasi dan gak pernah kepikiran akan pecah ketuban duluan. Karena alzam dan aza ke tempat bersalin setelah ada flek lendir darah dan kontraksi. Kalau baby 3 kontraksi plus pecah ketuban.

“Alhamdulillah….ini yang kita tunggu, waktunya Maryam lahir.” Suami senang sekali akhirnya tanda persalinan datang. Begitupula denganku. Aku juga lebih tenang saat mengetahui ketuban jernih. Alhamdulillah sebentar lagi ya nak kita bertemu.

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s