Kisah Persalinan Maryam Part 2

So, karena ketuban pecah duluan yang harus dilakukan adalah tetap terhidrasi jadi minum yang banyak dan gak boleh banyak gerak supaya gak makin banyak ketuban keluar. Teteh asisten dibangunin dan minta tidur menemani anak-anak. Alhamdulillah anak-anak gak kebangun, soalnya Alzamboy itu sejak jauh-jauh hari bilang ingin ikut kalau lahiran, itu artinya agak chaos kalau dia ikut heu.

Pukul 3 lebih sekian kami berangkat dari rumah menuju Klinik Harkel di Pasirsalam Bandung. Tadinya sempat ingin melahirkan di Bidan Farida, Bumi Sehat Bahagia namun berhubung pecah ketuban duluan yang lebih aman adalah datang minimal ke klinik yang ada dokter kandungan dan dokter anak. Sampai klinik sekitar pukul 3.30 lalu suami meminta kursi roda karena pecah ketuban gak boleh jalan. Dianterin satpam ke ruang bersalin langsung dan naik ke kasur bersalin. Dicek baru pembukaan dua. Mules udah per 5 menit sekali. Masih bisa cengengesan lah. Beneran deh pecah ketuban duluan itu kayak challenge selain berkejaran dengan waktu, posisi gak boleh byk gerak alias bedrest bikin pembukaan susah nambah.

Harusnya kan kalau mau cepat nambah pembukaan jalan-jalan, main gym ball, squatting jongkok-berdiri dsb pokoknya banyak gerak. Dan konon pecah ketuban duluan itu lebih sakit mulesnya dibanding ketuban masih ada, jadi wow gitu deh rasanya! Alhamdulillahnya persalinan kali ini aku lebih ekspresif minta dukungan ke suami, jadi peluk-peluk suami, remes-remes suami, gigit-gigit suami hahahaha… (kalau dua persalinan yang dulu paling gak mau dideketin suami, anti banget deh, suami ngelus ditepis, suami ngomong n semangatin aku suruh diem :D). Oiya, di kehamilan sekarang suami aku ajak ikut workshop persalinan dan lebih memberdayakan diri tentang persalinan. Jadi dia jago banget pijat endorphin saat lagi mules melahirkan Maryam hihihi…pokoknya persalinan kali ini kompak banget deh.

Sudah kuduga karena bedrest jadi pembukaan pelan majunya. Pukul 8 masih pembukaan 2 menuju 3 padahal udah 3 menit sekali mulesnya. Masih whatsapp sama keluarga dan main Instagram sih padahal 😀 . eh tiba-tiba ibu ngabarin mau datang ke klinik bawa anak-anak. Satu sisi seneng ya ada anak-anak, pas libur kan hari Ahad. Tapi sisi lain duh, lagi mules rapat gini enaknya ditemenin suami doang, kalau banyak orang mati gaya juga kurang nyaman.

Beneran deh pas anak-anak datang yang ada aku ketawa-ketawa dan tiap kontraksi datang aku mati gaya mau meluk siapa mau ngeremes tangan siapa. Masa ke ibuku atau anak-anak? Lalu tiba-tiba suami menghilang diajakin babeku ngopi. Uhuhuhuhuhu cry.

Karena merasa gak nyaman jadi kontraksiku ngacak lagi polanya, yang tadinya sudah 3 menit sekali jadi mundur 10 menit sekali. Masalahnya karena sudah pecah ketuban aku berkejaran dengan waktu agar melahirkan lebih aman tidak lebih dari 12 jam sejak pecah ketuban. Karena pecahnya ketuban membuka kesempatan infeksi dan membahayakan keselamatan janin.

Akhirnya aku ngomong ke ibu kalau memang aku jadi gak nyaman dengan banyak orang (aku tipe yang kalau lagi lahiran ingin berdua doang dengan suami). Sebenarnya aku sedih sih berasa ngusir ibu dan anak-anak tapi demi keselamatan janin dan diriku sendiri ya akhirnya dengan teganya aku minta ibu dan anak-anak supaya pulang aja. Aku telpon suami “Mas dimana? Mulesku ilang nih…” Suamiku langsung panik yang tadinya ngobrol santai sama Babeku langsung bubar. Iya nih kenapa Babe pula ngajak suamiku ngobrol di saat yang tidak tepat. “Anak-anak sama ibu bapak kuminta pulang karena aku jadi gak konsen, mas cepetan kesini ya…” Beneran pola kontraksi yang tadinya sudah 3 menit sekali bubar juga.

So, singkat cerita tinggal aku dan suami di kamar. Terus aku nangis dong “Mas aku jahat ya ngusir ibu….” Rasanya bersalah gitu. Suami nguatin kalau sekarang yang prioritas keselamatan janin dan ibu. Kalau dengan kedatangan keluarga bikin kemunduran dalam proses persalinan better ya gak usah. Masalahnya beda orang beda tipe. Mungkin aku tipe yang inginnya proses persalinan intim *hayah kagak nyaman dengan banyak orang. Persalinan itu pekerjaan hormon-hormon di tubuh dan hormon itu gak bakal terproduksi kalau kitanya stress alias gak nyaman.

Oiya kami dapat ruang perawatan Kamar Marwah di Klinik Harkel Bandung. Tadinya udah ngincer kamar-kamar idaman: Haramain dan Mina. Tapi penuh saudara-saudara. Jadi kebagian kamar Marwah untuk 2 pasien, alhamdulillah cuma sendiri, bed sebelah kosong. Jadi lebih nyaman.

Dan setelah sepi, keluarga pada pulang baru deh gelombang cinta muncul lagi meski 5 menit sekali. Meski ini penurunan karena sebelumnya sudah per 2 menit sekali. Tapi Wow! Ini yang kutunggu. Dokter visit datang pukul 10 kalau gak salah di cek baru mau ke pembukaan 3. Lambat ini progressnya, karena mules sempat berhenti akibat gak nyaman. Udah mulai deg2an. “Aduh kok masih pembukaan 3 ya…” Tapi dokter meyakinkan semua oke, denyut jantung janin juga oke. Aku sempat mendengar posisi bayi masih tinggi belum turun posisi -1. Namun aku yakin sih ini bukan masalah karena anak ke-3 bayi baru turun biasanya saat fase aktif persalinan (di atas pembukaan 4).

Lalu segera deh aku makin oles-oles dan hirup oil kesukaan stressaway oil supaya tubuh lebih nyaman agar hormone persalinan lancar. Sambil menghirup stressway oil sambil afirmasi diri proses persalinan cepat. Oiya, karena kesukaanku lemon oil, jadi aku selang-seling antara stressaway dan lemon. Kalau lagi mules super gak nyaman aku merasa tersemangati dengan aroma lemon. Jadi semangat dan ceria jadi hilang sedih sakitnya.

Oiya, kerasa banget ya teknik pernafasan. Lebih tertolong rasa sakitnya dengan kita atur nafas. Masalahnya teknik nafas itu gak bakal bisa kalau kita gak latihan sebelumnya. Alhamdulillah karena rajin yoga lumayan atur nafasnya, meski harus sering diingatkan oleh bidan. Kalau lupa atur nafas sakitnya makin-makin. Kunci banget deh teknik nafas, apalagi pas ngeden. Nafas adalah koentji.

Pukul 11.30 aku diminta ke ruang persalinan. Dalam hati sudah feeling aduh jangan-jangan diminta induksi. Bidan bilang sudah disiapkan gym ball di ruang bersalin. Alhamdulillah, akhirnya diizinkan exercise dengan gym ball karena sebelumnya tidak diperbolehkan (kan pecah ketuban) tapi mungkin dengan berbagai pertimbangan terutama bayi yang masih di atas panggul aku diizinkan pakai gymball oleh dokter.

“Bu, dokter minta kalau gak ada perkembangan diinfus, gimana bu?” Bidan menawarkan. Aku dan suami berpandangan. Artinya diinduksi. Sebelumnya sudah dicek masuk pembukaan 4 artinya sudah ada kemajuan meski lambat. Dan kalau sudah masuk pembukaan 4 biasanya lebih cepat ke pembukaan lengkap karena sudah masuk fase aktif. Pengalamanku melahirkan 2 anak itu dari pembukaan 4 paling hanya 2 jam ke pembukaan 10. Jadi aku menolak diinduksi karena yakin aku butuh waktu paling gak 2 jam dan kalaupun diinduksi paling jatuhnya sama saja 1 sampai 2 jam ke pembukaan lengkap.

Akhirnya sebisa mungkin aku memanfaatkan gymball sambil dipijat oksitosin oleh suami. Nah disinilah aku merasa progressnya cepat. Terutama setelah bermain gymball, paling nyaman saat posisi memeluk bola dan suami elus-elus punggung. Beberapa kali hasrat ingin buang air kecil jadi bolak balik ke WC. Itu tanda bagus! Berarti bayi semakin turun aku menjadi lebih bersemangat. Sakit makin menjadi-jadi setiap gelombang cinta datang, apalagi terasa saat bayi menekan bagian bawah panggul. Konon jika ketuban pecah duluan sakitnya lebih-lebih karena tidak ada bantalan. Dan iya aku akui huhuhu…tiap kali gelombang cinta datang dan bayi terasa menekan aku mengalihkan dengan posisi berdiri. Terasa sekali saat berdiri bayi makin mudah turun.

Bidan beberapa kali mengingatkan agar aku atur nafas saat mulai mengerang. Yaa, persalinan kali ini aku naluri banget seperti animal insting saat lahiran keluar suara-suara aneh. Bidan yang membantuku Bidan Maria sabar,baik banget dan cantik. Lembut banget, suka deh hehehe. Pas banget mirip namanya, bidan Maria membantu persalinannya Maryam. Gak tahu kenapa kalau dikasih arahan sama bidan Maria aku nurut banget sama kadang salfok soalnya orangnya cantik ngademin gitu:D kayak ditolong bidadari 😀

Karena melihat gelagatku yang makin tak terkondisikan, bidan Maria memintaku naik ke kasur untuk dicek pembukaan. Pembukaan 6 kalau gak salah di pukul 12.30. Alhamdulillah karena aktif berpindah posisi dan pakai gym ball progressnya mulai banyak. Hore! Tapi bayi masih tinggi. Ini kusadari salah satu akibat dari salah otot seminggu terakhir jadi sama sekali gak power walk dan off yoga. Padahal jelang bayi lahir harus lebih ngebut power walknya dan rajin yoga. Ternyata Allah kasih aku sakit otot jadi aktivitas terbatas.

Aku makin semangat main gym ball dan memanfaatkan posisi berdiri saat gelombang rahim datang agar bayi terbantu gravitasi untuk turun ke dasar panggul. Tubuh mulai berkeringat dingin dan ingin banget berlama-lama di kamar mandi saat buang air kecil. Berlama-lamanya saat menyiramkan tubuh dengan air hangat duh enaknya yaaaa…duh nyaman hihihi…meredakan nyeri dan sakitnya. Bidan Maria mengecek pembukaan sudah masuk pembukaan 10 dong sekitar pukul 13.30. Tuh kan ternyata dari pembukaan 4 ke 10 cukup satu jam, jadi aku merasa keputusan menolak induksi saat pembukaan 4 sudah tepat.

Oiya, aku hafal banget ciri-ciri mulai masuk pembukaan lengkap itu tubuhku menggigil kedinginan dan berkeringat banyak. Aku kebantu dengan minyak kutus-kutus yang dioleskan suami di telapak kaki yang dingin. Aku diminta bidan naik ke atas kasur karena sudah pembukaan lengkap. Namun kenapa ya belum ada hasrat mengejan.

Bidan cek kalau kepala bayi masih tinggi meski pembukaan sudah lengkap. Aku diminta jongkok di atas kasur. Eh sempat bingung. “jongkoknya gimana bu?” aku bingung kasur kecil posisi jongkoknya kayak gimana hhihihi.. Bidan bilang senyamannya aku aja. Oiya selain dibantu bidan Maria aku juga dibantu 2 orang bidan lainnya. Dokter awalnya memantau by phone. Akhirnya aku berpegangan pada besi sandaran kasur dengan posisi jongkok, setiap gelombang cinta datang aku mengejan. Beberapa kali diingatkan saat salah teknik mengejan. Aku sih ngerasa banget mengejan pakai teknik nafas dan kekuatan otot paha juga. Ini hal-hal yang didapatkan kalau kita rajin yoga. Jadi otot paha lumayan kuat gak capek buat posisi jongkok dan ngangkang 😀

Kurang lebih setelah 3 atau 4 kali mengejan, bayiku turun! Berasa banget ngeganjel di bawah kepalanya! Wow ini waktunya!

Bidan memintaku untuk tiduran. Bingung dong gimana pindah posisi dari jongkok ke bebaring sementara kepala bayi sudah crowning. Akhirnya dibantu dua orang bidan aku bebaring. Dan this is the show!

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s