Journey to marry a stranger

Bagaimana menikah dengan seorang yang asing? Bahkan hal itu gak pernah aku pikirkan sebelumnya.
Kebanyakan orang beranggapan perlu mengambil waktu untuk berkenalan dan menggali lebih banyak tentang seseorang yang akan menemani hidupnya.
Gimana ceritanya kalau gak kenal terus ta’aruf terus lamaran terus menikah?
Apakah harus ada rasa cinta sejak awal berjumpa?
Well…semua orang punya pandangan berbeda.

Ini tentang kisahku dari sudut pandangku yang menikah dengan seseorang yang belum kukenal sebelum ta’aruf.
Mungkin berbeda jika kau tanyakan pada suamiku. Karena dia ngakunya udah ngefans sejak lama (bongkar rahasia..)
Salah suka sama orang? Enggak…
Enggak salah, apalagi kalau kamu memperjuangkannya menjadi pendamping hidupmu.

Apakah aku menyukainya? Mungkin aneh kedengerannya, tapi aku sudah berkomitmen akan menyukai seseorang jika ia telah menjadi suamiku.
Emang gak pernah suka sama cowok? Pernah tapi cuma Allah dan aku yang tahu. Aku simpan rasa itu, karena aku belum tahu dia jodohku atau bukan.
Gila?! Mungkin hahaha..itu cuma komitmen diriku aja. Jadi pengennya aku benar-benar jatuh hati seutuhnya buat suamiku.

Emang kagak ada yang ngajak pacaran? Serrringggggg…..
sejak SD pun hahahah…
Terus pernah pacaran?
sekalinya pas kelas 1 SMP pernah ditembak terus diiyakan sama temen2ku terus dibilang jadian, terus bingung dih ngapain, risih ditelpon-telpon, risih diikutin kalau pulang sekolah, risih disamperin ke kelas, risih diliatin, terus seminggu kemudian aku ingin mengakhiri! Pergilah kau ke ujung dunia! Yaampun jadinya kok sebel πŸ˜€
Itu kalau diitung pacaran ya berarti sekali pacarannya. Seminggu yang menderitaaaaaa.

Terus yang nembak-nembak lainnya?
Ditolakin semua. Entah kenapa mungkin karena doa orang tua ya, pas ditembak kok aku gak suka. Giliran suka sama cowok, eh cowoknya gak nembak. *nasib
Keajaiban alam! Soalnya kalau aku udah pacaran sejak SMP aku juga gak tahu bakal kayak gimana kuhabiskan masa mudaku.
Eh iya pernah juga sih kayak nyesel gitu nolak cowok, dia udah mati-matian ngejar terus aku mati-matian gak suka. Terus dia nyerah terus abis itu kok dia jadi most wanted boy gitu.
Cewe2 pada ngobrolin dan bilang ke aku “ih beruntung ya…yang jadi pacarnya dia, udah ganteng, tajir, baik, pinter, populer,…”
mmmmm….terus baru deh berasa nyesel. Baru nyadar, eh iya dia kan ganteng. Kok pas dia ngejar perasaan jelek banget. Nah kalau gitu namanya benar-benar Allah yang nutupin hatiku πŸ˜€
Padahal dia jago banget ngejarnya, aku rasa cewe normal bakal klepek-klepek. Aku soalnya agak gak normal alias kurang tersentuh sama romantisme gombalan wkakaka.
Ya kurang apa coba dia, tapi ya Allah yang menutupi hatiku jadi gak suka sama dia gimana dong.

Singkat cerita ditembak cowok makin menjadi saat jelang lulus kuliah. Nah, dimulai dari yang ngajakin nikah langsung, atau ke guru ngaji atau nitip lewat teman.
Sebenarnya aku gak hitung berapa, kalau aku bilang banyak banget ukurannya berapa yak? Kalau kuingat-ingat yang ngajakin nikah serius ada belasan. Serius maksudnya ngajak nikah bukan pacaran.

Ada yang baru jumpa sekali, tiba-tiba langsung inbox di facebook “dek…ini kakak yang kemarin jumpa. sudah punya calon belum? Kakak boleh minta kontak guru ngajinya?” intinya dia ngajak nikah.
Sebenernya geli-geli gitu lho pas bacanya. Apalagi pas dia maksa. Ya namanya usahalah ya…
Atau ada juga pas zaman friendster message gini “kayak caleg aja sih, buat nikah sama kamu ditanya visi misi berumah tangga :D” itu kayaknya dia sebel juga udah
berbulan-bulan ngedeketin tapi akunya diem aja. Dikasih penegasan tapi dia pantang nyerah. Ya cowok harus gitu sih. jangan pantang menyerah!
Ada juga yang memendam rasa entah berapa lama ngakunya sejak kuliah, lalu melalui guru ngaji (murobbi) dia masukin biodata ke aku setelah satu/dua tahun lulus kuliah (lupa).
pas data itu sampai ke aku, aku kaget. Ha? Kok bisa ya ada orang sesabar itu, memendam rasa suka…bertahun-tahun lalu baru mengutarakan saat dia siap menikah.
Dan selama itu boro-boro, gak ada komunikasi sama sekali. Gak ada bilang “aku suka kamu bla bla…” jadi dia ungkapkan saat dia udah siap nikah. Dan tragisnya, ternyata ibunya sendiri yang belum mengizinkannya menikah di saat aku dan keluargaku oke.
Jadi cut deh! Kebayang gak, sesabar apa itu orang. Aku salut sih!

Ada juga yang semuanya oke, lalu tiba-tiba ibuku gak sreg! padahal udah ke rumah itu si cowoknya dari luar kota ditemani guru ngajinya. itu juga aku gak kenal,
soalnya dijodohin sama guru ngaji.
Ada juga yang aku dan dia sama-sama datang dari luar kota bahkan dia dari luar pulau ke rumah murobbi, eh tiba-tiba akunya gak sreg dan mundur dari proses.
Ada juga yang nelpon langsung terus aku bilang gak bisa terima langsung saat itu juga. Terus abis itu dia bilang “kalau ketemu anggap gak ada apa-apa ya..” Β Tapi pas ketemu ya ampun, kasian banget kayak stress gitu dan dia kyk marah, jadi kalau papasan buang muka. Maaf huhuuuhuhu…
Ada juga yang memendam terus kaget pas aku kasih undangan nikah , kyk shocked gitu! Beberapa saat kemudian dia nangis kata teman-temanku πŸ˜€
Maka dari itu utarakan sebelum terlambat.

Ada juga yang datang ke rumah, selisih satu minggu setelah aku menerima lamaran dari suamiku. Bayangin! selisih seminggu doang, dan kata ibuku dia matanya berkaca-kaca gitu pas ibu kasih tahu aku sudah dipinang minggu lalu.
Dia bilang akan tetap menaruh harapan selama akad belum terucapkan *sumpah ini serius terdramaaaaa. Dia juga bilang, minggu depan dia udah ingin bawa keluarganya ke
rumahku bahkan ditemani ustadz buat lamaran. Tapi dia kaget pas dapat kabar kalau aku sudah dilamar. Selain itu dramanya karena memang, kalau gak salah hampir dua tahun dia berjuangnya. Sejak awal dikenalkan lewat teman, ternyata dia itu belum diizinin nikah sama keluarganya. Jadi taarufnya berhenti, abis itu lanjut lagi saat gara-gara apa lupa…atau gara-gara dia udah dapat izin orang tuanya ya. Terus ada masalah lagi, yaudah aku tegaskan cut dulu aja.Β  eh pas dia mau maju dan udah persiapan langsung lamar akunya udah dilamar (sama suamiku).

Oiya ada juga yang SMS dan misscall di waktu sholat tahajud (sekitar jam 3an) selama bertahun-tahun dan aku gak tahu siapa. lalu baru ngaku pas udah lulus kuliah dan gak
begitu kaget sih pas tahu orangnya siapa.

Cerita-cerita lainnya gak usah diceritain nanti kepanjangannnnnnn….

Udahlah intinya mah, kenapa dari sekian banyak yang ngajak nikah baik secara langsung ataupun melalui perantara (ta’aruf) gak berakhir dengan pernikahan?
Ada yang akunya gak cocok (karena beda sudat pandang hidup, gak klik gitu), ada yang orang tuaku gak cocok, ada yang orang tuanya gak cocok sama aku, ada yang dianya ragu-ragu, ada yang terlambat datang (saat aku sudah dilamar). Sudah jalan dari Allah sih yah.

Jalan berliku kayak gitu sebenarny aku stress! capek lah, ada yang datang kok ada aja gak jadinya. Giliran berharap ini proses lancar eh tiba-tiba ortunya gak cocok, dsb.
kurang lebih selama dua tahun lah berjuang cari suami (haihhh)

emang cari yang kayak gimana sih aku tuh intinya:
sevisi semisi. Inginnya ya dapat suami yang sama-sama menguatkan dan mengingatkan untuk beribadah.
Karena aku orangnya idealis yah, jadi harus sama sepemikiran. Pengennya ya setelah berumah tangga makin sholehah gitu. jadi intinya cari suami yang sholeh.

parameternya dilihat darimana?
ini sih yang susah ya bok. Minimal komitmen dia untuk ibadah harian, ini bisa digali dengan nanya puasa sunahnya?sholat sunahnya?. Kalau yang wajib-wajib mah minimal.
kalau orang udah ngerjain yang sunnah insyaAllah dia cinta sama rasulullah saw dan Allah swt. oiya, gak suka cowok yang ngerokok.

sebenarnya simpel banget.
dan qadarullah yang lainnya belum sempat masuk ke tahap lamaran, nah suamiku yang pertama melamarku. Aku gak ada alasan buat nolak dia.
Soalnya kelihatannya sholeh (aku bilang kelihatannya, karena cuma Allah yang tahu kan ya gimana betongnya dia). Soalnya ortuku merestui.
Terus aku suka dia? Nope…sesungguhnya aku membutuhkan waktu untuk menyukainya πŸ˜€
Gimana rasanya nikah tanpa menyertakan feeling suka?
Sebenarnya aku yang membatasi diriku untuk menumbuhkan rasa itu. Karena aku takut suka dan berharap sama orang tapi belum tentu akad terucap.
Kalau akad udah terucap aku baru berani numbuhin rasa itu.
Aku juga gak berani menumbuhkan rasa itu supaya aku bisa memandang dia secara objektif. Tahu kan kalau kita sudah terlanjur suka yang jelekpun akan dianggap indah.
Untuk mengetahui sifat dia yang sebenarnya aku berusaha gak main hati gitu deh. Supaya aku bisa menilai objektif dan mengukur bisa gak yak aku deal dengan orang ini.
Bisa gak ya aku hidup dengan dia.

Terus satu yang aku salut dari dirinya, dia benar-benar terbuka dan jujur apa adanya. Jadi apa-apa yang tertulis di biodata dirinya saat ta’aruf adalah dirinya yang
nyata. Jadi aku gak kesusahan mengenalnya setelah menikah. Nah, jadi gimana ceritanya ta’aruf sama dia?
Panjang lagi ini ceritanya πŸ˜€Β  NEXT ya πŸ˜€

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s