Menemukan Bakat (Mission of Life)

Sering denger atau merasa gak? Duh aku gak punya bakat nih. Ya dia enak kalau gak kerja kantoran ada bakat bisnis,masak, fotografi, ngajar, nulis kan bisa cari kegiatan dan cari duit. Nah kalau gak punya bakat cocoknya jadi pegawai kantoran atau ngurus rumah tangga aja deh. Oyakah?

Ngomongin tentang ini itu erat banget sama ngomongin tentang genetik, pola asuh orang tua dan bentukan lingkungan termasuk sekolah. Terus juga ngomongin tentang ini terkait juga dengan masa pencarian jati yang memuncak saat remaja. Sebenarnya pencarian jati diri ini adalah proses pembelajaran sepanjang hidup sih tapi krusialnya saat remaja itu.

Dan tentu saja pencarian jati diri ini akan lebih mudah jika…

Jika kamu mengenal siapa Penciptamu dan untuk apa kamu diciptakan di dunia. So kadang, atau seringnya untuk menjawab suatu pertanyaan kita tarik awal mula dan ujungnya. Awal mula kenapa kamu dipilih Allah untuk hidup di dunia? Dan ujung kehidupanmu agar kamu dapat menentukan, mau berakhir seperti apa dan akan hidup di alam akhirat seperti apa? Ok fix kalau bicara hal ini denganku balik lagi tentang bab keimanan :D.

Untuk apa Tuhan menciptakanmu? Kalau dalam Al qur’an sudah dijelaskan untuk beribadah. Bisa dijabarkan lagi menjadi khalifah untuk mengelola bumi, berlomba-lomba memperbanyak amal untuk bekal akhirat. Kalau mau dijabarkan lagi lebih banyak lagi. Ringkasnya mah gitu.

Nah, mau seperti apa akhir hidupmu? Surgaaaaaaa….. (serempak jawab gitu) . Ada harganya dong. Tentu saja makin bagus makin mahal. Pintu surga juga ada banyak (bisa cari di mbah google). Mau masuk semua pintu? Oke…tapi gimana caranya kalau kamu gak tahu kelebihanmu dimana.

Ada pintu sedekah, pintu ilmu, pintu bagi ahli yang menahan amarah dan memaafkan, pintu jihad, pintu sholat, pintu arrayyan bagi ahli puasa, pintu al-ayman khusus bagi yang masuk surga tanpa hisab. Eh sebenarnya bukan mau bahas itu.

Nah untuk beramal cerdas dan biar di atas rata-rata orang lain menurutku kita harus tahu apa kelebihan kita yang gak dipunya oleh semua orang. Maksudku, masuk surga itu saingannya berapa milyar orang kan? Apa yang jadi daya tawar kita lebih baik di mata Allah? Situ pede? Surga diciptakan biar kita berkompetisi juga lho.

Dan sadar gak sih, Allah kasih setiap orang genetika yang berbeda dengan potensi yang berbeda untuk dipertanggungjawabkan pula. Akan lebih baik kalau kita tidak menyia2kannya potensi yang diberikan olehNya. Supaya bisa beramal cerdas. Beramal agar bisa sesuai passion dan kelebihan masing-masing. Karena menempatkan amal sesuai degan bakat peluang suksesnya lebih besar.

Kenapa bahas ini karena beramal butuh strategi cyin. Berbuat jahat aja perlu strategi masa berbuat baik gak pake strategi kan?

Oke, kalau kamu sudah dapat apa tujuan penciptaan dirimu dan akan berakhir seperti apa hidupmu. Mari petakan apa potensi dirimu untuk beramal cerdas.

Sebenarnya kita bisa melihat kecenderungan diri dari: Kebiasaan/kesukaan. Hobinya apa? Duh gak punya hobi. Ah masa…atau apa yang membuat kamu bahagia? Hal apa yang membuatmu merasa senang? Atau hal apa yang membuat kamu lebih menonjol dibanding yang lain?

Gak punyaaaaa……?!

Kemungkinan kamu belum serius dan bekerja keras mengasah bakatmu. Atau kamu kehilangan orientasi hidup, misal kamu bekerja di tempat yang gak sesuai passion atau kamu sedang banyak beban hidup sehingga boro-boro mikirin dirimu sendiri, wong masalah berat sehari-hari.

Oke, kalau ngerasa gak punya bakat. Cukup perbaiki iman, sholat yang bener, ibadah yang bener, doa sungguh-sungguh, let Him show your way. Serius semakin kamu mengenal Tuhanmu, semakin kamu mengenal dirimu.

Selesai 😀

Nah, aku nulis ini mau cerita aja gimana pola asuh orang tua selain genetika tentunya mempengaruhi gimana kita menjadi sekarang.

Ini lagi ngebahas parenting ortuku yang ndilalah saat aku baca-baca teori parenting kekikinian ya pas banget. Beneran ibuku visioner banget, bahkan sampai aku punya anak-anak sekarang aku masih ngikutin saran-saran ibu soalnya sumpah visionernya kebangetan! Terlalu cerdas!

Ibuku bilang:

  1. Biarkan anak mengeskplor bebas main sepuasnya.

Tugas anak adalah bermain. Bermain bisa mengasah banyak hal, terutama bermain dalam kelompok. Anak bisa belajar berkomunikasi, mengelola konflik, dan menentukan peranan dirinya dalam kelompok. Biarkan anak bermain karena dia sedang membuat simulasi saat kehidupan dewasanya nanti. Dia sedang mengukur apa yang dia sukai dan yang tidak disukai. Apa yang membuatnya merasa ahli dan mana yang dia kurang ahli. Semakin banyak eksplorasi semakin tergali dirinya. semakin berkembang pemikirannya, semakin terlatih motoriknya dan daya juang serta kegigihannya. Ini penting banget untuk bekal hidupnya!

Oiya saat kecil, aku ingin sekali memelihara anak ayam, lalu mengambil telur dari dapur dan membungkusnya dengan selimut lalu ditaruh di bawah kolong kasur. Orang tua tidak melarang namun membiarkan. Hingga kemudian berhari-hari aku menyerah karena telur tidak menetas. Baru deh orang tua menjelaskan. Jadi mereka memberikan ruang bagi anak untuk bereksperimen sendiri tanpa menyodorkan langsung. Tanpa menyuapi istilahnya, jadi lebih berkesan bagi anak karena mempelajarinya sendiri. Jadi anak-anak lebih tergelitik untuk banyak berpikir dan menganalisa.

ini juga yanga ku terapkan ke anak-anak. Sampai-sampai Alzam dikenal oleh guru-guru sebagai anak yang analisa dan logikanya tajam, sering ngoreksi bu guru juga ya bu 😀

2.Terlarang memarahi dan menekan anak.

Bahaya memarahi anak saat golden age pasti udah pada tahu kan. Bisa memutuskan simpul sarafnya. Bisa bikin anak ciut dan stress.

Hanya ada dua kemungkinan dari orang tua yang diktator: anak akan menjadi penakut dan peragu tidak bisa mengambil keputusan karena takut salah atau anak akan menjadi pembangkang alias pemberontak.

Lebih baik menjadi pembangkak daripada penakut sebenarnya. Anak yang penakut akan ragu-ragu menjalani banyak hal, bahkan dia tidak berani menunjukkan kelebihan dan potensi yang dia miliki karena dia kawatir akan dicemooh orang, khawatir akan pandangan orang tentangnya, takut salah. Sementara anak pembangkang terlihat lebih kuat pribadinya karena dia tahu apa yang dia inginkan namun dia akan kesulitan dalam perjalanan hidupnya karena tidak ingin mengikuti aturan. Sementara hidup kan sosial bukan di hutan, ada banyak aturannya.

Oiya masih tentang telur. Suatu hari aku dan adikku bereksperimen keramas dengan telur. Saat itu Sunsilk lagi booming ngeluarin sampo varian terbaru: sampo telur dan madu. Hahahaha 😀

Aku dan adikku keramas di kamar mandi dengan sampo dan telur! Pikirku daripada beli samponya, mending pake telur asli lebih manfaat hahahah.

Tahu kan gimana amisnya telur. Bayangin gimana amisnya kamar mandi dan eh ada telur yang tumpah ke bak mandi.

Babe mergoki kami, sungguh kami takut dimarahin. Eh babe emang sih mukanya serem…tapi kemudian, babe bersihin kamar mandi sikat-sikat bak dan lantai.

Tanpa terucap kata-kata. Hahahah tapi kami merasa bersalah.

Sikap orang tua yang tidak nge-blame ke kami karena tahu anak-anak tugasnya adalah bereksperimen.

Barangkali nanti anaknya menemukan formula sampo baru?! Hahahaah 😀

3.Terlarang memberikan beban pikiran dan pekerjaan pada anak.

Masa sekolah anak sewajarnya dihabiskan dengan belajar dan menggali potensi dirinya. bila memberikan beban permasalahan dan tugas tambahan baginya akan membuatnya melewatkan masa-masa emas pembelajaran baginya. Kecuali tugas-tugas domestik rumah, itu bukan beban pekerjaan ya melainkan sarana pembelajaran bagi anak untuk kemandirian, ketrampilan dan tanggung jawab asal sesuai kemampuan anak tsb.

Beban di sini misalnya masalah rumah tangga, ortu yang bertikai, perceraian dsb.

Karena dampaknya besar banget bagi psikis anak. Ataupun diberikan beban untuk mencari nafkah pada anak. Hak anak adalah belajar dan kewajiban orang tua adalah menafkahinya. Jika masa pembelajaran pada anak banyak tekanan dan diberikan banyak beban. Yang ada sutris anaknya , boro-boro nemu bakat dianya aja kesulitan menghadapi problematika.

4.Berikan sarana dan pra sarana

Nah bisa dalam bentuk kursus/les. Stimulasi di rumah, permainan, disediakan sarana dan prasaranya. Jadi dulu sih orang tuaku gak pelit buat biayain les. Sebenarnya sesuai kemampuan juga sih, gak semua diikutkan. Yang kira-kira menunjang bagi anak dan disukai aja. Juga karena tahu anaknya hobi baca dibeliin buku-buku.

Saat TK ibu menyadari gerakan motorik halusku sebagai anak perempuan payah hahah, lalu ibu mengikutkanku ke sanggar tari. Dan benar saja kyknya aku cocoknya ngerap bukan nari tradisional. Krn motorik halusku PR bgt. Salah dong masukin ke sanggar tari? Kan gak sesuai bakat anak? Justruuu buat membalance-kan motorik. Soalnya aku perempuan 😀 byk pekerjaan rumah tangga butuh ketrampilan motorik.

Visioner emang bener ibuku.

Oiya,termasuk pemilihan sekolah bagi anak. Ibuku ngepush banget anak-anak masuk sekolah yang favorit. Buat apa? Karena di sekolah favorit kualitas gurunya lebih baik, teman-temannya lebih beragam dan suasananya kompetisi. Kompetisi bikin anak stress? Enggaakkk…justru bikin anak terpacu. Balik lagi gimana anaknya ya. Kalau anaknya enjoy secara sukarela dia akan melibatkan diri untuk kompetisi karena ingin menjadi yang terbaik di bidangnya. Inget lho masuk surga itu kompetisi, jadi mental berkompetisi itu bagus menurutku asal kompetisi yag positif. Wong hidup di dunia kita diminta berlomba-lomba dalam amal kebaikan kan?

Nah jiwa kompetisi itu gak akan muncul kalau dia gak percaya diri, percaya diri itu timbul kalau dia merasa mampu. Nah merasa mampu itu adalah akibat dukungan, pengakuan dan prestasi yang dia bikin. Alias bakatnya

5.Komunikasi yang lancar dengan anak

Bonding yang dekat ngaruh banget gimana si anak berpretasi dan menemukan bakat dirinya. ibu dan bapakku selalu diskusi denganku dan bercerita tentang contoh-contoh pembelajaran nyata sehari-hari. Ibu sangat membentuk pola pikirku dan kepribadianku. Ibu bagian support tanpa pernah mendikte, aku diberi kesempatan menentukan meski hal-hal besar ibu yang menentukan.

Kalau bonding bagus, ortu juga dengan mudah kasih arahan n masukan buat anak. Bisa diskusi kemana arah anak melangkah. Karena kalau salah langkahnya berat step back nya.

6. Percaya diri dan bermental kuat tidak terbawa arus

Ibu mendidikku tidak takut berbeda dengan yang lain. Jika kebanyakan orang tua ingin agar anaknya sama dengan kebanyakan justru orang tuaku sering banget bikin diriku berbeda dengan yang lain.

Siang itu lagi terik-teriknya, tukang es lewat. Aku masih TK besar, beneran ngiler banget liat es krim. Apalagi tetangga-tetangga juga nyerbu tukang es. Aku merengek minta dibelikan es oleh ibu. ibu menolaknya aku bilang temen-temen juga beli, aku juga ingin. ibu semakin keras menolak permintaanku. fix bye bye es krim.

Esoknya tukang es krim lewat, eh ibu mengajakku untuk memilih es krim. Ibu membelikan es krim. Lalu ibu bilang “ibu gak ingin kamu ikut-ikutan orang lain. kemarin temen-temen beli es krim kamu ikut-ikut. ”

ibu mengajarkanku mengenali siapa diriku. bahkan aku lebih suka menciptakan sesuatu bukan following something or someone. Makanya kalau ditanya siapa idolaku aku akan menjawab para nabi itu. Bukan si dia tau dia. Dia n blm teruji dapet surga engga. Dgn mematok idola para orang sholeh tentu jadi bikin standar hidup naik juga gak sekedar kayak dia dan dia.

Hal itu memudahkanku dalam menjalani hidup aku lebih suka memilih berbeda dibanding ikutin sesuatu yang menurutku gak sesuai denganku. Aku percaya diri dengan diriku sendiri aku yakin aku bisa dan mampu cuma kurang gigih sih penyakitku hahahah. Aku juga dididik untuk mandiri dan bertanggung jawab pada diriku sendiri. Jadi aku paham siapa diriku, apa kebutuhanku dan kelemahanku. karena aku sering diajak diskusi, pembelajaran dan dikasih ruang untuk eksperimen.

So far, aku rasa orang tua berhasil membawaku menemukan meaning of my life. tinggal gigih n kerja kerasnya aku nih belum teruji.

Nah penutupnya aku ingin tutup dengan teori kebutuhan Maslow yang terkenal itu.

Terdapat 5 tingkatan kebutuhan dasar manusia:

  1. Kebutuhan fisiologis: lapar, haus dsb
  2. Rasa aman
  3. Kasih sayang
  4. Penghargaan
  5. Aktualisasi diri

Aktualisasi diri adalah kebutuhuan tertingginya hanya bisa diraih jika kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, penghargaan telah didapatkan.

Aktualisasi adalah ketepatan seseorang dalam menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan dirinya. alias berkaitan juga dengan bakat!

Kalau kebutuhan kita sudah terpenuhi, masalah hidup sudah lebih sederhana dan bisa dihadapi menurut Teori Maslow ya kita akan eksis dengan kemampuan/bakat kita tentu saja!

Nah kalau kitanya masih repot ini itu, rempong masalah rumah tangga, apalagi bagi anak yang kurang terpenuhi kebutuhan dasarnya, kurang penghargaan, kurang kasih sayang, kurang rasa aman dsb ya gimana dia bisa mengaktualisasikan dirinya?!

So, kita gak akan denagn mudah mencari bakat dan kemampuan diri bila, kita belum terpenuhi kebutuhan2 dasar kita. Begitu pula dengan anak-anak kita.

Nah kalau bagi orang dewasa kita bisa men-drive diri kita terkait kebutuhan dasar, nah kalau anak-anak? Adalah tugas kita bagi orang tua memenuhi kebutuhan dasar mereka agar mereka bisa actual berkarya bagi dunia-akhiratnya.

surga itu masuknya kompetisi lho! camkan wahai diriku…

Selesai…ini semua pendapat pribadiku. Enjoy! Dan boleh bertukar pikiran 😀

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s