Tugas Seorang Ayah

                Sekarang setelah menjalani kehidupan rumah tangga selama tujuh tahun dan telah melalui banyak hal bersama jadi semakin paham kenapa dianjurkan oleh Rasulullah saw memilih pasangan hidup dari agamanya.

                Salah satunya peristiwa dari berpulangnya Maryam, bayi kami, anak ketiga kami di saat usianya 20 jam. Menurut diagnosa dokter, Maryam menghirup air ketuban sehingga masuk ke dalam paru-parunya.  Kemungkinan karena penanganan pecah ketuban yang kurang aman sehingga menyebabkan resiko pada bayi.

                  Nah aku ingin bercerita tentang sosok ayah yang begitu sholeh menemani saat-saat terakhir Maryam, mendampingi Maryam merapalkan surat Alqur’an hafalannya. Sejak dari ambulans, perjalanan ke rumah sakit rujukan, pertolongan di IGD selama berjam-jam suamiku membacakan surat-surat Alqur’an yang dia hafal. Tahu kan hanya Allah yang dapat menolong dan Al qur’an itu…adalah assyifa, penyembuh. Hanya itu yang dapat kami lakukan. Selama video call, aku ikut menyemangati Maryam meski gak kuat menyaksikannya. Segala alat dipasang. Namun menurut keterangan dokter karena terlalu lama pertolongan, akhirnya ya memang terlambat pertolongan. Qadarullah, dokter anak baru visit setelah 10 jam Maryam lahir. Padahal sejak awal IMD sudah terlihat kulitnya membiru. Jika mengingat gimana kejadian jam demi jam sebelum kepergian Maryam, emang kayak final destination. Salah satunya kejadian lepas selang oksigen selama entah berapa lama, tidak ada petugas medis sama sekali, aku cuma bisa memandangi dari luar ruangan terbatas oleh kaca. Semua petugas medis sedang menangani proses lahiran di ruang melahirkan. Nunggu petugas medis keluar ruangan ada 20 menit, lepas selangnya entah sudah berapa lama. Nah setelah selang lepas makin drop kondisinya. Semua kayak bersatupadu mengikuti jalinan skenario Allah. Tentu jika kami berbicara sebagai makhlukNya. Walau demikian banyak hal pembelajaran dan evaluasi bagi kami sebagai pasien dan petugas medis.

                Namun demikian kami merasa ada kelegaan tersendiri, tugas kami sebagai orang tua untuk mengenalkan anak pada rabbnya sedikit telah tertunaikan. Salah satunya, memperdengarkan asma Allah melalui surat-surat Alquran. Tugas ayah telah tertunaikan meski sekedarnya. Mas, jika di hari akhir nanti kita ditanya tentang tanggung jawab kita sebagai orang tua, semoga dari hafalan Alqur’an mu yang kamu bacakan untuk bidadari kita selama berjam-jam menemaninya menjadi amalan bagimu. Saat itu aku langsung bersyukur di situasi gawat seperti itu, serba terburu dan serba cepat, boro-boro bawa barang apapun, yang tersisa hanya hafalan al qur’an di benakmu dan hanya itu yang dapat kamu  berikan untuk putri kita. Namun itu lebih dari cukup karena itu yang dia dan kita butuhkan.

                Aku menyaksikan via video call bagaimana rapuhnya dirimu saat Maryam dinyatakan tidak tertolong oleh dokter. Aku pun tidak bisa berbuat banyak sehabis melahirkan hanya bisa berdoa dan berdoa. Maryam, selain Ummi yang telah mengandung dan melahirkanmu dengan perjuangan, jangan  lupakan abimu ya nak, abimu yang mengenalkanmu dengan surat-surat Alqur’an membantu memandikanmu, menggendongmu untuk dishalatkan, dikuburkan. Semoga menggugurkan tugas kami sebagai orang tuamu.

                Meski banyak kurangnya sana sini. Di sini kami baru menyadari bahwa  minim sekali ilmu menangani jenazah secara Islam. Abimu berkata nak, merasa menyesal tidak bisa memandikanmu langsung melainkan hanya membantu petugas yang paham tata cara memandikan secara islam. Semoga kejadian ini membuat kami makin dekat dengan rabb.

                Yang single yang baca ini, serius deh cari pasangan hidup dari agamanya. Perjalanan berumah tangga itu banyak sekali ujiannya, banyak hal yang tidak terduga. Kalau iman kita kuat, bisa saling menguatkan dan mengingatkan.

                Berpulangnya Maryam ditemani oleh lantunan Alqur’an oleh abinya, sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. Semoga kemudian kita semua diwafatkan syahid dan husnul khotimah. Kejadian ini juga menegaskan bahwa di situasi genting, darurat, gawat, kita gak akan teringat apa-apa kecuali Allah (jika orang beriman). Berbahagialah kalian yang mempunyai banyak hafalan Alqur’an jika kamu dalam posisi tidak bisa berbuat apa-apa, itulah yang bisa menemani dan menghiburmu. Karena aku sudah menyaksikannya. Seseorang akan bersama dengan apa yang dicintainya. Jika kamu cinta pada Alqur’an, dengan mudah kamu akan membawanya dalam hatimu untuk menyembuhkan dirimu dan orang-orang yang kamu cintai.

             Makasih abi buat semuanya…Maryam pasti sangat bangga padamu. Semoga Allah makin menyayangi kita semua dalam iman Islam.

One thought on “Tugas Seorang Ayah

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s